Cara UEA mengelola krisis akibat serangan AS-Israel ke Iran

1 week ago 8
Sistem peringatan yang dapat langsung menjangkau masyarakat melalui jaringan telekomunikasi memungkinkan pemerintah menyampaikan informasi secara cepat dan akurat pada saat krisis terjadi.

Abu Dhabi (ANTARA) - Krisis sering kali memperlihatkan wajah asli sebuah negara. Bukan pada saat keadaan berjalan normal, melainkan ketika sistem diuji oleh situasi darurat.

Penutupan sementara ruang udara di Persatuan Emirat Arab (UEA) akibat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah baru-baru ini menjadi contoh bagaimana sebuah negara mengelola situasi genting dengan sistem yang terorganisasi dan komunikasi yang terukur.

Sekitar 20 ribu visitor atau penumpang internasional dilaporkan sempat tertahan (stranded) di berbagai bandara di negara itu sejak 28 Februari 2026 sesaat setelah ruang udara di UEA ditutup.

Namun alih-alih berubah menjadi kepanikan massal, situasi justru terkendali dengan relatif tenang. Wartawan ANTARA, yang juga tertahan di negara itu, ikut merasakan bagaimana cara pemerintah UAE mengelola situasi genting.

Bandara-bandara utama seperti Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi, Bandara Internasional Dubai, hingga Bandara Ras Al Khaimah menghentikan sebagian operasional penerbangan sebagai langkah pencegahan.

Penutupan ruang udara dilakukan setelah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan yang memicu kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman rudal.

Dalam kondisi seperti ini, ribuan penumpang transit dari berbagai negara otomatis tidak dapat melanjutkan perjalanan mereka alias stranded.

Dalam banyak kasus di berbagai negara, situasi seperti ini bisa dengan cepat memicu kekacauan. Penumpang yang kehilangan kepastian jadwal penerbangan biasanya akan memadati bandara, mencari informasi yang tidak selalu tersedia, atau bahkan berebut fasilitas terbatas.

Namun pendekatan yang dilakukan pemerintah UEA menunjukkan pola berbeda. Respons yang muncul bukan hanya cepat, tetapi juga terkoordinasi.

Langkah pertama yang diambil adalah memastikan tidak ada pengunjung internasional yang terlantar.

Pemerintah melalui Department of Culture and Tourism Abu Dhabi mengeluarkan instruksi kepada hotel-hotel untuk memperpanjang masa inap para tamu yang tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat gangguan penerbangan.

Pemerintah bahkan menegaskan bahwa biaya tambahan malam menginap akan ditanggung negara. Kebijakan ini segera memberikan kepastian bagi ribuan visitor yang sebelumnya berada dalam ketidakpastian.

Kebijakan tersebut bukan sekadar bentuk pelayanan kepada wisatawan. Di baliknya terdapat strategi penting dalam manajemen krisis. Ketika penumpang memiliki tempat tinggal yang jelas dan aman, potensi kepanikan di bandara dapat ditekan secara signifikan.

Sistem transportasi pun memiliki ruang waktu untuk melakukan penyesuaian tanpa tekanan dari kerumunan penumpang yang menunggu tanpa kepastian.

Koordinasi juga terlihat dari kerja sama antara maskapai dan otoritas bandara. Maskapai seperti Etihad Airways dan Emirates melakukan penjadwalan ulang penerbangan secara bertahap dengan berkoordinasi langsung dengan regulator penerbangan.

Sebagian penerbangan dibuka secara terbatas terlebih dahulu untuk melayani penumpang yang telah lama tertahan atau yang berada dalam perjalanan transit. Pendekatan bertahap ini membantu menghindari penumpukan penumpang dan menjaga operasional bandara tetap tertib.

Bahkan penerbangan repatriasi menuju ke tujuan terdekat visitor juga mulai diaktifkan.


Emergency Alert

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |