BGN minta 400-an SPPG perbaiki kualitas

3 hours ago 1

Semarang (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta sekitar 400 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memperbaiki kualitas seiring dengan evaluasi dan temuan atas kasus-kasus menonjol.

"SPPG yang mengalami kejadian menonjol. Artinya, yang masakannya menimbulkan sakit bagi anak," kata Kepala BGN Dadan Hindayana di Semarang, Selasa.

Dia mengatakan hal tersebut, setelah Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG di Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang.

Ada juga, kata dia, SPPG yang kualitasnya kurang bagus, belum membangun instalasi pengolahan air limbah (ipal), bahkan ada yang belum mengajukan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Hal itu, katanya, termasuk 47 SPPG yang kualitas menunya saat bulan Ramadhan tidak memenuhi standar.

Baca juga: Wamendukbangga minta SPPG tak gunakan produk pangan olahan

Menurut dia, ratusan SPPG tersebut terpaksa dihentikan operasinya sementara waktu, dievaluasi, dan diinvestigasi sebelum dinyatakan bisa beroperasi kembali.

"Mudah-mudahan, ke depan setelah kita stop, evaluasi, investigasi dan ketika nanti berjalan kembali sudah lebih baik," katanya.

Ia menjelaskan bahwa waktu penyetopan operasi SPPG tersebut bervariasi bergantung dari hasil evaluasi, sedangkan paling singkat bisa saja dalam waktu tiga minggu untuk kemudian beroperasi lagi.

"Misalnya dalam waktu tiga minggu seluruhnya sudah diketahui (persoalan) apa dan kemudian sudah bisa diperbaiki, bisa jalan," katanya.

Namun, kata dia, bisa saja lama jika proses investigasi memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ditemukan.

"Contoh waktu (kasus) di Bogor itu dua bulan. Di Bandung itu hampir tiga bulan. Itu sangat tergantung besarnya kasus. Sangat tergantung," katanya.

Ia mengatakan bahwa pemerintah tentu berharap menu masakan yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) berkualitas, berkearifan lokal, dan tahan lama.

"Nah, rupanya masih banyak SPPG yang masih kesulitan menentukan menu yang khas lokal yang bisa tahan lama. Jadi, kadang-kadang ada yang masih menggunakan yang mudah (tidak tahan lama) ya," katanya.

Baca juga: BGN: 49 SPPG dihentikan sementara untuk evaluasi Program MBG

Baca juga: Akademisi: Masyarakat perlu terlibat aktif awasi Program MBG

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |