Jakarta (ANTARA) - Telur menjadi salah satu bahan makanan yang mudah ditemukan dan cukup sering dikonsumsi sebagai hidangan sehari-hari. Selain praktis diolah, telur juga mengandung protein serta berbagai zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Namun, telur juga kerap dikaitkan dengan kolesterol. Anggapan bahwa terlalu sering makan telur bisa membuat kadar kolesterol darah meningkat memang ada dasarnya, tetapi persoalannya ternyata tidak sesederhana itu.
Telur, terutama bagian kuningnya, memang mengandung kolesterol makanan atau dietary cholesterol. Satu butir telur utuh berukuran besar mengandung sekitar 200 miligram kolesterol makanan. Meski begitu, pengaruh kolesterol dari makanan terhadap kadar kolesterol darah dapat berbeda pada setiap orang dan juga dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan.
Baca juga: Telur retak masih aman dimakan? Ini penjelasan ahli
Baca juga: Telur hingga bayam bisa jadi sarapan yang bantu stabilkan energi tubuh
Telur memang bisa memengaruhi kadar kolesterol
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur dapat memberikan pengaruh terhadap kadar kolesterol darah. Meta-analisis terhadap 28 uji klinis menemukan bahwa konsumsi telur meningkatkan kolesterol total dan LDL atau kolesterol "jahat", tetapi juga meningkatkan HDL atau kolesterol "baik". Penelitian tersebut tidak menemukan perubahan signifikan pada trigliserida.
Penelitian lain yang menganalisis 17 uji terkontrol secara acak juga menemukan bahwa konsumsi telur dalam jumlah lebih banyak dapat meningkatkan rasio LDL terhadap HDL.
Artinya, anggapan bahwa telur sama sekali tidak berpengaruh terhadap kolesterol darah juga kurang tepat. Ada pengaruh, tapi besaran pengaruhnya tidak selalu sama bagi setiap orang.
Setiap orang bisa memiliki respons yang berbeda
Tubuh setiap orang tidak selalu memberikan respons yang sama terhadap kolesterol dari makanan. Faktor genetik, pola makan, aktivitas fisik, serta kondisi kesehatan dapat ikut memengaruhi kadar kolesterol darah.
Tinjauan yang diterbitkan pada 2025 juga menunjukkan bahwa bukti mengenai hubungan konsumsi telur dengan berbagai dampak kesehatan masih beragam. Para peneliti menilai kualitas bukti yang tersedia masih rendah dan menyimpulkan belum ada cukup bukti untuk menganjurkan agar telur dihindari sebagai bagian dari pola makan sehat.
Dengan kata lain, telur tidak perlu langsung dianggap sebagai makanan yang harus dihindari hanya karena mengandung kolesterol.
Baca juga: Kenali 8 manfaat telur puyuh untuk tumbuh kembang optimal bayi
Lalu, apakah boleh makan telur setiap hari?
Bagi orang yang sehat, telur dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Namun, jumlah dan cara mengonsumsinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Jika seseorang sudah mengetahui memiliki kadar LDL yang tinggi atau memiliki faktor risiko penyakit jantung, sebaiknya lebih memperhatikan total asupan kolesterol dan lemak jenuh dalam pola makan. AHA secara khusus menyarankan orang dengan LDL tinggi untuk mempertimbangkan pengurangan sumber lemak jenuh sekaligus kolesterol makanan.
Selain itu, pola makan sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis makanan. Sayuran, buah, sumber protein lainnya, biji-bijian, dan makanan kaya serat juga perlu menjadi bagian dari menu sehari-hari.
Jadi, benarkah telur bisa meningkatkan kolesterol?
Ya, telur dapat meningkatkan kadar kolesterol darah pada sebagian orang, namun pengaruhnya tidak berarti telur harus dihindari sepenuhnya. Penelitian menunjukkan konsumsi telur dapat meningkatkan kolesterol total dan LDL, sekaligus dapat meningkatkan HDL. Besarnya perubahan juga dapat berbeda antarindividu.
Yang tidak kalah penting adalah melihat pola makan secara keseluruhan. Telur yang dikonsumsi sebagai bagian dari menu seimbang tentu berbeda dengan pola makan yang secara rutin tinggi lemak jenuh dan makanan olahan.
Jadi, tidak perlu langsung takut makan telur hanya karena kandungan kolesterolnya. Bagi kebanyakan orang sehat, telur masih dapat menjadi sumber protein yang praktis. Namun, jika memiliki kadar kolesterol tinggi atau kondisi kesehatan tertentu, pengaturan pola makan sebaiknya disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan.
Baca juga: Banyak makan telur bisa sebabkan bisul, mitos atau fakta?
Baca juga: Berapa lama merebus telur agar nutrisinya tidak hilang?
Baca juga: Sarapan telur dan roti selai kacang bantu jaga gula darah
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































