Jakarta (ANTARA) - Mengatur gaji Rp5 juta per bulan membutuhkan perencanaan agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi tanpa mengorbankan tabungan. Salah satu langkah penting adalah menyisihkan uang di awal, bukan menunggu sisa gaji pada akhir bulan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya menentukan alokasi penghasilan sesuai tujuan keuangan dan menyisihkannya sejak awal. Dalam salah satu panduan pengelolaan keuangan, OJK memberikan acuan minimal 20 persen untuk investasi, maksimal 30 persen untuk cicilan utang, sementara sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Gaji Rp5 juta sebaiknya ditabung berapa?
Tidak ada angka yang wajib berlaku untuk semua orang karena kondisi keuangan setiap orang berbeda. Namun, menyisihkan 20 persen dari gaji dapat menjadi salah satu patokan awal.
Jika penghasilan bersih Rp5 juta per bulan, 20 persennya adalah Rp1 juta.
Baca juga: Perencana keuangan: Tiga kesalahan orang tua saat tahun ajaran baru
Baca juga: Porsi cicilan sebaiknya maksimal 30 persen dari penghasilan
Dengan demikian, seseorang dengan gaji Rp5 juta dapat menargetkan tabungan atau investasi sekitar Rp1 juta setiap bulan.
Jika konsisten selama satu tahun tanpa memperhitungkan bunga atau hasil investasi, dana yang terkumpul mencapai Rp12 juta.
OJK juga menyarankan prinsip "sisihkan", bukan sekadar "sisakan", karena uang yang tidak dialokasikan sejak awal cenderung habis untuk berbagai kebutuhan.
Untuk memudahkan, berikut salah satu contoh pembagian yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing:
Rp1 juta untuk tabungan atau investasi
Alokasi ini dapat digunakan untuk membangun dana darurat, tabungan tujuan tertentu atau investasi sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.
Rp2 juta untuk kebutuhan pokok
Dana ini dapat digunakan untuk makan, transportasi, tempat tinggal, listrik, pulsa serta kebutuhan rutin lainnya.
Rp1 juta untuk kebutuhan dan keinginan
Bagian ini dapat digunakan untuk kebutuhan pribadi, hiburan, makan di luar atau aktivitas sosial. Besarnya tentu dapat dikurangi jika kebutuhan pokok lebih tinggi.
Rp1 juta untuk cicilan atau kewajiban lain
Bagi yang tidak memiliki utang, dana tersebut dapat dialihkan untuk menambah tabungan, investasi atau tujuan keuangan lainnya.
Pembagian tersebut bukan aturan baku. OJK sendiri menekankan pentingnya pencatatan pemasukan dan pengeluaran serta penyesuaian anggaran dengan kondisi masing-masing.
Jika punya cicilan, bagaimana membaginya?
Cicilan perlu menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum menentukan jumlah tabungan.
Dalam panduannya, OJK memberikan acuan maksimal 30 persen penghasilan untuk membayar cicilan utang. Dengan gaji Rp5 juta, batas tersebut setara sekitar Rp1,5 juta per bulan.
Namun, angka tersebut bukan berarti seseorang harus mengambil cicilan hingga batas maksimal. Semakin kecil beban utang, semakin besar ruang untuk menabung dan memenuhi tujuan keuangan lainnya.
Sebagai contoh, jika cicilan mencapai Rp1,5 juta, kebutuhan sehari-hari Rp2,5 juta dan tabungan Rp1 juta, seluruh gaji Rp5 juta sudah memiliki alokasi.
Bagaimana jika pengeluaran lebih besar dari gaji?
Jika kebutuhan pokok sudah menghabiskan sebagian besar penghasilan, target menabung 20 persen mungkin terasa berat.
Dalam kondisi tersebut, jumlah tabungan dapat dimulai dari angka yang lebih kecil, misalnya Rp250 ribu atau Rp500 ribu. Hal terpenting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara rutin sambil mengevaluasi pengeluaran.
OJK juga menekankan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat pemasukan serta pengeluaran, dan menentukan skala prioritas agar arus kas tetap sehat.
Baca juga: Kiat atur alokasi dana dan kelola uang secara lebih terarah
Tips agar gaji Rp5 juta tidak habis sebelum akhir bulan
1. Sisihkan tabungan saat gajian
Begitu menerima gaji, langsung pindahkan bagian yang telah ditentukan ke rekening atau instrumen yang memang diperuntukkan bagi tujuan keuangan.
2. Pisahkan rekening
Memisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan dapat membantu mencegah uang tabungan ikut terpakai.
3. Catat pengeluaran
Catatan sederhana dapat menunjukkan ke mana uang paling banyak digunakan. OJK menyebut pencatatan membantu mengetahui kondisi keuangan dan membuat proyeksi keuangan ke depan.
4. Kurangi pengeluaran yang tidak penting
Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat mengurangi kemampuan menabung. Evaluasi langganan, makan di luar, belanja impulsif dan pengeluaran hiburan.
5. Jangan menabung tanpa tujuan
Menentukan target seperti dana darurat, membeli kendaraan, biaya pendidikan atau rumah dapat membuat kebiasaan menabung lebih terarah.
Berapa tabungan yang terkumpul dari gaji Rp5 juta?
Jika menyisihkan Rp1 juta setiap bulan, perkiraannya:
- 3 bulan: Rp3 juta
- 6 bulan: Rp6 juta
- 1 tahun: Rp12 juta
- 2 tahun: Rp24 juta
- 3 tahun: Rp36 juta
Angka tersebut merupakan perhitungan sederhana dan belum memasukkan bunga tabungan, hasil investasi, biaya administrasi, pajak atau perubahan jumlah setoran.
OJK juga menganjurkan agar tujuan keuangan dibuat secara spesifik dan terukur, kemudian kemajuannya dipantau secara berkala.
Jadi, gaji Rp5 juta sebaiknya ditabung berapa?
Target 20 persen atau sekitar Rp1 juta per bulan dapat menjadi patokan awal, tetapi bukan angka yang wajib bagi semua orang.
Jika kebutuhan pokok dan cicilan masih tinggi, nominal tabungan dapat disesuaikan. Sebaliknya, jika pengeluaran relatif rendah dan tidak memiliki banyak utang, alokasi tabungan atau investasi dapat ditingkatkan.
Kunci utamanya adalah menyisihkan uang secara konsisten setelah menerima gaji, mencatat pengeluaran dan menyesuaikan anggaran dengan tujuan keuangan. Dengan cara tersebut, gaji Rp5 juta tetap dapat dikelola untuk kebutuhan sekarang sekaligus mempersiapkan kebutuhan di masa mendatang.
Baca juga: 7 cara mengatur keuangan rumah tangga agar tidak boros & tetap stabil
Baca juga: 10 cara mengatur keuangan bulanan agar gaji tidak cepat habis
Baca juga: 8 cara mengatur keuangan gaji UMR agar tetap bisa menabung
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































