Jakarta (ANTARA) - Minum es sering menjadi salah satu hal yang langsung disalahkan ketika seseorang mulai bersin, pilek atau mengalami batuk. Sejak kecil, tidak sedikit orang yang mendengar nasihat agar tidak terlalu sering minum air dingin karena dianggap bisa membuat tubuh "masuk angin" atau terkena flu.
Anggapan tersebut memang cukup melekat di masyarakat. Apalagi, gejala seperti tenggorokan terasa tidak nyaman setelah minum minuman dingin bisa membuat seseorang semakin yakin bahwa es merupakan penyebabnya.
Namun, benarkah minum es bisa menyebabkan flu? Jawabannya tidak secara langsung. Flu dan pilek merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, bukan karena suhu minuman yang dikonsumsi. Lantas, mengapa minum es sering dianggap sebagai penyebab flu? Berikut penjelasannya.
Baca juga: 8 makanan terbaik untuk meredakan gejala flu dan batuk
Baca juga: Studi sebut sup bisa bantu meringankan gejala saat flu
Flu disebabkan oleh virus, bukan minuman dingin
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah penyebab flu. Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza.
Sementara itu, istilah "flu" juga sering digunakan masyarakat untuk menyebut pilek atau common cold. Pilek sendiri dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus, dengan rhinovirus sebagai salah satu penyebab yang paling umum.
Virus penyebab pilek dapat menyebar melalui udara dan kontak dekat dengan orang yang sedang terinfeksi. Karena itu, minum air es tidak bisa membuat seseorang tiba-tiba terkena pilek jika tidak ada paparan virus penyebabnya.
Lalu, kenapa setelah minum es tenggorokan terasa tidak nyaman?
Minuman yang sangat dingin memang bisa menimbulkan sensasi tertentu pada tenggorokan. Pada sebagian orang, suhu dingin dapat membuat tenggorokan terasa kurang nyaman atau memicu batuk sementara.
Namun, sensasi tersebut berbeda dengan infeksi virus.
Jika seseorang kebetulan sudah terpapar virus beberapa hari sebelumnya, gejala pilek bisa muncul pada waktu yang berdekatan dengan saat ia minum es. Kondisi inilah yang mungkin membuat minuman dingin terlihat seperti penyebabnya.
Menurut Mayo Clinic, gejala pilek umumnya mulai muncul sekitar satu hingga tiga hari setelah seseorang terpapar virus.
Baca juga: Gejala Pneumonia, mirip flu tapi lebih berbahaya
Minum es tidak membuat virus muncul
Tubuh tidak tiba-tiba menghasilkan virus hanya karena seseorang mengonsumsi minuman dingin.
Pilek terjadi ketika virus masuk ke tubuh dan menginfeksi saluran pernapasan. Virus tersebut dapat berpindah melalui percikan dari orang yang terinfeksi, kontak langsung, atau menyentuh benda yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, hidung atau mulut.
Jadi, jika seseorang minum es lalu beberapa waktu kemudian mengalami pilek, belum tentu minuman tersebut menjadi penyebabnya. Bisa saja infeksi memang sudah terjadi sebelumnya dan gejalanya baru muncul.
Bagaimana dengan anggapan cuaca dingin bikin flu?
Anggapan bahwa suhu dingin langsung menyebabkan flu juga kurang tepat.
Cuaca dingin sendiri tidak mengandung virus penyebab flu atau pilek. Namun, penyakit pernapasan tertentu memang lebih sering terjadi pada musim dingin di sejumlah negara.
Salah satu alasannya adalah orang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dan berdekatan dengan orang lain. Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang penularan virus.
Artinya, yang perlu diperhatikan bukan sekadar suhu udara atau makanan dan minuman dingin, tetapi paparan terhadap virus penyebab infeksi.
Baca juga: Bisakah Anda terkena flu dan COVID-19 berbarengan?
Bolehkah minum es ketika sedang pilek?
Jika seseorang sedang pilek, tidak ada aturan umum yang menyatakan bahwa minuman dingin harus selalu dihindari.
Bahkan, Mayo Clinic menyebut es batu dapat digunakan untuk membantu menenangkan sakit tenggorokan pada kondisi tertentu. Yang lebih penting adalah memastikan tubuh mendapatkan cukup cairan dan tetap beristirahat.
Namun, setiap orang bisa memiliki respons yang berbeda. Jika minuman dingin membuat tenggorokan terasa semakin tidak nyaman atau memicu batuk, memilih minuman dengan suhu yang lebih nyaman tentu bisa menjadi pilihan.
Ketika sedang pilek, minuman hangat sering terasa lebih nyaman karena dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman pada tenggorokan dan membantu mengurangi hidung tersumbat.
Mayo Clinic menyebut cairan seperti air, kaldu bening atau minuman hangat dapat membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi. Minuman hangat juga dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman akibat hidung tersumbat.
Jadi, memilih minuman hangat saat sedang sakit bukan berarti minuman dingin menyebabkan penyakit. Pilihan tersebut lebih berkaitan dengan kenyamanan saat tubuh sedang mengalami gejala.
Yang lebih penting adalah mencegah penularan virus
Daripada terlalu khawatir dengan es, langkah yang lebih penting untuk mencegah pilek dan flu adalah mengurangi risiko terpapar virus.
Menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit dan menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus penyebab infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, tubuh juga membutuhkan istirahat yang cukup dan asupan cairan yang memadai, terutama ketika sedang tidak enak badan.
Jadi, benarkah minum es bisa bikin flu? Tidak secara langsung. Flu dan pilek disebabkan oleh virus, bukan karena air es, es batu, atau minuman dingin.
Meski begitu, minuman dingin bisa terasa kurang nyaman bagi sebagian orang ketika tenggorokan sedang sensitif. Karena itu, jika sedang sakit dan merasa lebih nyaman dengan minuman hangat, tidak ada salahnya memilihnya.
Yang terpenting, jangan sampai anggapan bahwa "minum es bikin flu" membuat Anda lupa pada penyebab sebenarnya. Risiko flu dan pilek lebih berkaitan dengan paparan virus dan penularannya dari satu orang ke orang lain.
Jika gejala berlangsung lebih lama dari biasanya, semakin berat, disertai kesulitan bernapas atau kondisi lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Baca juga: Dokter: Gejala campak diawali flu biasa diikuti panas tinggi
Baca juga: Apa itu influenza A?
Baca juga: Gejala pneumonia berbeda dengan flu, bisa menyebar ke organ lain
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































