Jakarta (ANTARA) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan laba bersih yang tumbuh 59,4 persen year on year (yoy) menjadi Rp1,07 triliun pada 2025, yang merupakan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah BEI.
Pertumbuhan laba bersih perseroan seiring dengan pendapatan konsolidasi yang tumbuh 29,8 persen (yoy) menjadi Rp3,66 triliun pada 2025.
“Perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 59,4 persen (yoy) menjadi Rp1,07 triliun di tahun 2025, yang merupakan pencapaian laba bersih tertinggi dalam sejarah,” ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers seusai menggelar RUPST di Jakarta, Senin.
Pertumbuhan pendapatan perseroan ditopang oleh pertumbuhan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang mencapai Rp18,07 triliun pada 2025, yang didorong oleh pertumbuhan jasa transaksi efek sebesar 41 persen dan jasa kliring sebesar 41,3 persen.
Jeffrey menjelaskan, perseroan juga terus melakukan diversifikasi sumber pendapatan melalui jasa informasi, pendapatan investasi, dan kontribusi anak usaha, sehingga pendapatan non-transaksi meningkat 14,6 persen, sementara pendapatan lainnya tumbuh 17 persen.
“Meskipun saat ini sebesar 76,8 persen dari total pendapatan dikontribusikan oleh kegiatan terkait transaksi di pasar modal, perseroan tetap berupaya untuk menjaga pertumbuhan dari pendapatan lainnya, yang tercermin dari kenaikan pendapatan tidak terkait transaksi sebesar 14,6 persen, dan pendapatan lainnya sebesar 17 persen,” ujar Jeffrey.
Di sisi lain, jumlah beban perseroan meningkat 17,1 persen (yoy) menjadi Rp2,37 triliun pada 2025, terutama akibat meningkatnya kontribusi tahunan kepada OJK seiring bertambahnya aktivitas transaksi pasar modal.
Pada akhir 2025, total aset BEI tercatat tumbuh 32 persen (yoy) menjadi Rp14,78 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 14 persen (yoy) menjadi Rp9,45 triliun.
“Pencapaian ini mencerminkan fundamental keuangan perseroan yang semakin kuat,” ujar Jeffrey.
Sepanjang 2025, Jeffrey mengatakan aktivitas perdagangan pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang kuat, dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk nonsaham mencapai Rp7,6 triliun.
Sementara itu, pasar obligasi di BEI, melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), mencatat total volume transaksi mencapai Rp1.375 triliun, sementara nilai perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) tercatat senilai Rp36,37 miliar
Dari sisi penghimpunan dana, BEI telah mencatatkan 26 perusahaan melakukan pencatatan saham baru (IPO) dengan total kapitalisasi pasar sebesar Rp155,2 triliun pada saat pencatatan. Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai sekitar Rp18,1 triliun, atau tumbuh 26 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain IPO, penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai Rp217,4 triliun, sedangkan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan Waran mencapai Rp43,7 triliun.
Baca juga: Kapitalisasi pasar modal RI ditargetkan capai Rp30.000 triliun di 2030
Baca juga: BEI catat 8 perusahaan antre gelar IPO di pasar modal Indonesia
Baca juga: RUPST BEI sepakati jajaran direksi baru periode 2026-2030
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































