Jakarta (ANTARA) - Seperti legenda Sangkuriang yang konon mampu membangun perahu raksasa dalam semalam, semangat serupa seolah hadir di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, awal Juni lalu.
Bedanya, yang dibangun bukan perahu, melainkan harapan baru bagi lima keluarga melalui program bakti sosial bedah rumah dan tempat ibadah.
Jika Sangkuriang membangun perahu demi memenuhi permintaan Dayang Sumbi, warga binaan Lapas Warungkiara justru membangun kembali rumah-rumah warga sebagai bentuk pengabdian kepada negara dan masyarakat. Lewat tangan-tangan mereka, rumah-rumah yang sebelumnya tak lagi layak huni berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.
Dalam waktu sekitar dua pekan, lima rumah yang semula hanya berupa bangunan setengah tembok dan setengah bilik, tanpa kamar mandi, disulap menjadi rumah layak huni. Kini setiap rumah telah memiliki kamar mandi di dalam, dua kamar tidur, ruang tamu, serta dapur.
Kecepatan pembangunan itu tidak lepas dari penggunaan teknologi panel beton Rumah Instan Sehat Aman (Risham). Jika pembangunan pondasi rumah konvensional umumnya memerlukan waktu 15 hingga 20 hari, teknologi tersebut memungkinkan pondasi selesai hanya dalam waktu sekitar 15 jam. Berkat sistem itu pula, kelima rumah sudah dapat ditempati hanya dalam kurun dua pekan.
Menariknya, panel beton Risham tersebut juga merupakan hasil karya warga binaan. Produk itu diproduksi di lokakarya Lapas Kelas I Tangerang melalui unit Jawara Beton. Lima rumah di Warungkiara bukanlah bangunan pertama yang memanfaatkan produk tersebut. Sebelumnya, panel beton Jawara Beton telah digunakan untuk membangun rumah bagi aparatur sipil negara (ASN) di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
Kontribusi warga binaan tidak berhenti pada pembangunan fisik rumah. Perabotan seperti lemari dan kursi tamu yang mengisi rumah-rumah itu juga merupakan hasil karya warga binaan Lapas Kotabumi, Lampung.
Seluruh bantuan tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada warga melalui program bakti sosial pemasyarakatan yang diresmikan langsung oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto pada Rabu (10/6).
Sekitar 10 warga binaan dilibatkan dalam proses bedah rumah itu. Mereka bekerja berdampingan dengan warga dan para tukang bangunan, bergotong royong membangun kembali rumah-rumah yang telah rapuh. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk beradaptasi dengan masyarakat dan mengasah keterampilan di bidang konstruksi sebagai bagian dari program pembinaan yang mereka jalani.
Bagi Uci (59), salah seorang penerima bantuan, kehadiran warga binaan sama sekali tidak menimbulkan rasa khawatir. Sebaliknya, ia merasa sangat terbantu melihat rumahnya berdiri kembali dengan hasil pengerjaan yang rapi.
"Saya justru berterima kasih kepada mereka, karena berkat mereka saya jadi punya rumah yang layak," ujar Uci saat ditemui pada peresmian program bedah rumah di Warungkiara, Kabupaten Sukabumi.
Baca juga: Kemenkumham: Keselamatan di lapas harus menjadi prioritas utama
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































