Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan, peningkatan produktivitas harus diiringi dengan perbaikan ekosistem.
“Produktivitas bukan hanya pengetahuan, ini adalah mindset. Ini bukan hanya mindset, ini adalah budaya. Ini bukan hanya budaya, ini adalah kebiasaan. Ini bukan hanya kebiasaan, ini (harus dipraktikkan).Tidak hanya praktik saja, tapi ekosistem, struktur kita,” ucapnya dalam agenda Peluncuran Dokumen Master Plan Produktivitas Nasional di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa.
Dalam kesempatan tersebut, dia mempertanyakan mengapa orang Indonesia lebih produktif, rajin, dan tertib, jika hidup di negara lain. Jika mereka biasa membuang sampah sembarangan di Indonesia, misalnya, tetapi bisa menjadi lebih bersih apabila hidup di negara tertentu.
Menurut Rachmat Pambudy, salah satu faktor utama yang menyebabkan perubahan perilaku tersebut adalah adanya kekuatan ekosistem atau struktur, sehingga mereka menjadi lebih patuh.
Baca juga: Kepala Bappenas: Pertumbuhan ekonomi adalah cerminan produktivitas
Kepala Bappenas juga heran tentang kebutuhan belanja komputer hingga mencapai jutaan di Indonesia, tetapi belum ada pabrik khusus yang merakit barang tersebut di dalam negeri.
“Jadi bukan kita tidak produktif, kita belum ada keberpihakan untuk produktif. Belum ada willingness (kesediaan) untuk produktif,” kata dia.
Bagi Menteri PPN, usaha untuk produktif dan mandiri dapat mengambil contoh dari Presiden RI Prabowo Subianto ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) periode 2020-2024.
Walaupun belum cukup ekosistem untuk menghasilkan mobil, lanjut dia, tetapi Presiden membuktikan bahwa Indonesia mampu memproduksi kendaraan roda empat bernama Maung yang dibuat oleh PT Pindad.
Baca juga: Menaker: Produktivitas nasional modal utama perkuat daya saing global
Karena itu, dirinya mengharapkan Master Plan Produktivitas Nasional dapat menjadi panduan bagi para pemangku kepentingan untuk memperbaiki ekosistem agar mampu terbentuk secara utuh.
“Kunci daripada pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas,” ujarnya.
Mengacu periode 1980-1990an, ketika Indonesia disebut sangat produktif, hal itu disebabkan ekosistem mendorong untuk berbuat produktif, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta inflasi rendah dan terjaga.
Tercatat, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8,1 persen selama periode 1968-1979. Memasuki dekade 1980-1990an, pertumbuhan ekonomi Tanah Air bahkan sempat menyentuh angka 9,88 persen, yang dipengaruhi kebijakan diversifikasi ekspor, swasembada pangan, dan deregulasi perbankan, keuangan, serta perdagangan, sehingga memberikan kemudahan investasi.
Untuk Total Factor Productivity (TFP) pada tahun 1993, Indonesia sempat mencapai angka 1,4, di atas China yang hanya 1,39, Malaysia 1,24, India 0,94, dan Vietnam 1,19. Adapun per tahun 2022, TFP Indonesia turun menjadi 1,05, dikalahkan Vietnam 1,17, Malaysia 1,69, Korea Selatan 2,09, India 2,18, dan China 2,52.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































