Manado (ANTARA) - Di sebuah rumah yang jauh dari kata mewah di Lingkungan V, Kelurahan Bailang, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), tinggal seorang ibu bernama Hayati Sahempa (45).
Di balik kesederhanaan hidupnya, tersimpan perjuangan panjang seorang ibu yang setiap hari berusaha memastikan keluarganya tetap bisa makan dan bertahan.
Hayati merupakan warga yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tercatat berada pada kelompok desil 1 dan 2, bersama suaminya yang bekerja sebagai buruh harian lepas, ia harus menghidupi empat anak.
Pekerjaan sang suami tidak selalu tersedia setiap hari. Ketika ada pekerjaan, penghasilannya paling besar sekitar Rp60 ribu dalam sehari, namun ketika tidak ada panggilan kerja, tidak ada pula penghasilan yang bisa dibawa pulang.
Kondisi tempat tinggal keluarga itu pun jauh dari kata layak. Rumah mereka berdinding tripleks, berdiri sederhana dengan segala keterbatasannya. Di bagian belakang terdapat dapur kecil yang menjadi tempat Hayati menyiapkan makanan untuk keluarganya. Dinding dapur hanya terbuat dari bambu dan seng, sementara lantainya masih berupa tanah, itupun tidak rata.
Bagi Hayati, dapur kecil itu bukan sekadar tempat memasak. Di tempat itulah ia berjuang menghadirkan makanan untuk keempat anaknya. Dengan peralatan seadanya, ia tetap menanak nasi dan memasak apa yang tersedia. Tidak ada kemewahan, hanya ada tekad seorang ibu untuk membuat keluarganya tetap bertahan dari hari ke hari.
Setiap kepulan asap dari dapur sederhana itu seolah menjadi saksi perjuangan Hayati. Di tengah penghasilan keluarga yang tidak menentu, beras dan bahan makanan bukanlah sesuatu yang selalu mudah didapatkan. Ada hari-hari ketika kebutuhan rumah tangga harus disesuaikan dengan uang yang ada di tangan.
Di dapur itu, Hayati menunjukkan bahwa keterbatasan tidak serta-merta memadamkan harapan.
Ia mungkin tidak memiliki rumah yang kokoh, penghasilan tetap, ataupun kehidupan yang berkecukupan. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih besar, yakni keteguhan untuk terus berjuang demi empat anak yang menjadi tanggung jawabnya.
Di tengah kehidupan keluarga yang serba pas-pasan, Hayati sangat bersyukur, karena salah satu anaknya juga menerima bantuan dari pemerintah, yakni mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 21 Manado.
"Terima Kasih pak Presiden, terima kasih pemerintah Sulut, yang selalu membantu kami," kata Hayati dengan suara yang pelan.
Bagi keluarga yang setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup, kesempatan itu bukan sekadar kabar tentang sekolah. Bagi Hayati dan suaminya, diterimanya sang anak di Sekolah Rakyat adalah sebuah harapan baru. Harapan agar anak mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik, meskipun kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.
Karena itu, ketika anaknya dinyatakan diterima di Sekolah Rakyat, Hayati merasa sangat bersyukur. Beban keluarga sedikit demi sedikit terasa lebih ringan, sementara yang paling penting, anaknya tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan mengejar cita-cita.
Bantuan pangan
Di tengah kesibukan Hayati menjalani hari-hari sederhana bersama keluarganya, sebuah pesan masuk dari kepala lingkungan. Pesan itu mungkin terlihat singkat, tetapi bagi Hayati, isinya membawa kabar yang begitu berarti.
Kepala Lingkungan V Bailang, Ibrahim menyampaikan pesan bahwa nama Hayati tercatat sebagai penerima bantuan pangan beras dari pemerintah untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Beras tersebut disalurkan melalui Perum Bulog hingga ke kantor kelurahan untuk kemudian diteruskan kepada warga penerima manfaat.
Membaca pesan tersebut, hati Hayati terasa lega, apalagi penghasilan suaminya sebagai buruh harian lepas yang tidak menentu, bantuan beras itu menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi keluarganya.
Bagi sebagian orang, beberapa kilogram beras mungkin terlihat sederhana, namun bagi keluarga Hayati yang harus menghidupi empat orang anak dengan penghasilan yang tidak selalu ada setiap hari, beras adalah kebutuhan utama yang sangat menentukan apa yang tersaji di meja makan.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































