Samarinda (ANTARA) - Asap melayang di ufuk timur Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, diikuti hembusan angin kencang yang membawa pesan bahaya dari batas lahan.
Di tengah belukar dan pepohonan hijau yang membentang seluas 3.500 hektare ini, terdapat ruang seluas 130 hektare sebagai Sekolah Hutan, tempat bagi 11 orangutan yatim piatu belajar menjalani kehidupan.
Di sinilah mereka belajar kembali menjadi diri sendiri; menyusuri ranting, memetik buah, dan memanjat hingga ke kanopi, merangkai harapan demi masa depan yang bebas.
Namun pada 1 September 2026, api datang lebih cepat dari dugaan, menguji kesigapan setiap insan yang memegang teguh janji perlindungan.
Kisah tentang api yang melalap belantara Kaltim saat musim kemarau panjang akibat El Nino bukanlah hal baru. Namun kali ini, di pinggiran Areal Penggunaan Lain (APL) yang berbatasan langsung dengan kawasan rehabilitasi, kobaran membumbung menjadi raksasa merah yang melompati batas. Api mengancam kerja keras yang telah dirangkai dengan sabar selama bertahun-tahun.
Di balik gumpalan asap dan lidah api yang menjilat cepat, yang terbayang bukan sekadar pohon yang hangus, melainkan masa depan 11 orangutan yang belum sepenuhnya pulih dari duka kehilangan keluarga dan rumah pertama mereka.
Beruntung, kesiapsiagaan yang dipupuk sejak El Nino diprediksi bakal berkepanjangan terbukti menjadi benteng yang nyata.
Pukul 16.00 WITA, saat status darurat dikumandangkan, kolaborasi antarlembaga —Yayasan Jejak Pulang, BKSDA Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU)— menyatu menjadi penopang yang kokoh.
Kurang dari dua jam kemudian, seluruh orangutan yang terancam berhasil dievakuasi ke tempat aman. Api akhirnya padam menjelang senja; menyisakan duka di tanah yang hangus, tetapi membiarkan nyawa-nyawa berharga itu tetap bernapas.
Ini adalah kisah tentang kesiapsiagaan yang lahir dari kepedulian mendalam. Bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan wujud cinta yang siap berjuang kapan pun panggilan itu tiba. Kisah tentang bagaimana saat hutan terguncang bahaya, harapan justru berdiri tegak, tak menyerah pada angin maupun kobaran.
Baca juga: Karhutla 2026: Menyelamatkan satwa, menjaga rumahnya
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































