Jakarta (ANTARA) - Mereka yang bersorak atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, seharusnya menyadari terlebih dahulu sebuah pepatah bijak yang menyatakan bahwa "korban pertama dari perang adalah kebenaran itu sendiri".
Tidak perlu ilmuwan canggih untuk menyadari bahwa sebelum kebrutalan agresi AS-Israel ke Iran terjadi pada hari terakhir Februari 2026 itu, sebenarnya kemajuan telah terjadi dalam negosiasi perundingan antara AS dan Iran, yang dimediasi oleh Oman.
Optimisme dan harapan akan terciptanya perdamaian dan situasi yang lebih kondusif melambung tinggi ketika AS dan Iran terlibat dalam putaran baru pembicaraan nuklir yang dimediasi oleh Oman di Jenewa, Swiss.
Setelah berbulan-bulan ketegangan dan kecemasan regional meningkat, para negosiator dari Washington dan Teheran, yang dipandu oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, menggambarkan diskusi tidak langsung tersebut sebagai konstruktif dan bahkan progresif pada beberapa isu inti yang menjadi perselisihan seputar program nuklir Iran.
Sebagaimana dilaporkan sejumlah pemberitaan media internasional, Al-Busaidi mengatakan bahwa putaran terbaru mencapai "kemajuan signifikan," yang membuka jalan bagi pembicaraan tingkat teknis untuk dilanjutkan di Wina sekitar sepekan setelah Jenewa. Sebuah sinyal bahwa kedua belah pihak berkomitmen untuk menempuh jalur diplomatik ke depan.
Begitu pula para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan mereka untuk terlibat secara serius dan realistis jika adanya keselarasan dalam tuntutan yang mereka sampaikan. Namun, semua itu tampak sia-sia dan harapan itu menguap begitu saja dengan datangnya agresi AS-Israel ke Iran.
Tidak hanya sekadar agresi, serangan operasi militer canggih itu ternyata juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
The Wall Street Journal menyebutkan bahwa serangan AS-Israel itu menyerang lebih dari 2000 target di seluruh Iran. Sementara itu, lembaga Bulan Sabit Merah pada Senin (2/3), sebagaimana dikutip oleh Kantor Berita Fars, mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan udara AS-Israel sejak Sabtu (28/2) mencapai 555 orang.
Seperti tidak puas dengan itu, Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Daily Mail menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung sekitar empat pekan atau kurang dari itu.
Mereka yang mendukung aksi militer AS-Israel mungkin dapat berdalih bahwa serangan tersebut karena kesepakatan yang akan dicapai dalam mode diplomasi-negosiasi biasanya tidak akan berjalan mulus apalagi berlangsung dengan tulus.
Dengan kata lain, telah ada prasangka buruk bahwa apa pun yang ada di atas meja perundingan, ke depannya tidak akan mungkin mengekang ambisi Teheran untuk menghasilkan senjata nuklir, meski hingga kini tidak ada bukti nyata bahwa Iran telah berhasil memproduksi senjata jenis tersebut.
Selain itu, Teheran telah berulang kali menegaskan bahwa riset nuklir yang dilakukan adalah untuk tujuan damai dan bukan memproduksi senjata nuklir.
Iran juga telah berkali-kali membuka diri untuk diperiksa oleh lembaga Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang merupakan badan pengawas dari PBB.
Baca juga: PBB: Dunia kian berbahaya akibat konflik bersenjata
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































