Analis: Outlook Fitch Ratings beri tekanan tambahan ke IHSG 

5 hours ago 1
pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan

Jakarta (ANTARA) - Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan pelemahan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (4/3), merupakan refleksi dari akumulasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG bertambah seusai lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level investment grade, BBB.

“Perubahan outlook ini memang bukan penurunan rating, namun pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya risiko ke depan, terutama terkait ketahanan fiskal dan stabilitas kebijakan,” ujar Hendra saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Rabu.

Dalam kondisi global yang sudah diliputi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, Hendra mengatakan perubahan outlook menjadi sentimen tambahan yang mempercepat aksi jual (net sell), khususnya dari investor asing yang sensitif terhadap risiko makro.

“Dengan demikian, koreksi IHSG bukan hanya soal perang atau harga minyak semata,” ujar Hendra.

Ia menjelaskan, terdapat faktor teknikal berupa aksi profit taking (ambil untung) setelah reli panjang sejak awal tahun, pelemahan rupiah akibat capital outflow jangka pendek, serta kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi energi dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga.

"Kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, yang membuat tekanan pasar terasa lebih dalam dan berlangsung cepat dalam waktu singkat," ujar Hendra.

Ke depan hingga akhir Maret 2026, Hendra menyebut bahwa arah IHSG akan sangat ditentukan oleh dua variabel utama, yaitu harga minyak global dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Selama harga minyak Brent bertahan di bawah 90 dolar AS per barel, menurutnya, tekanan kemungkinan masih sebatas volatilitas jangka pendek.

Namun demikian, apabila harga minyak mendekati 100 dolar AS per barel, dan disertai gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar bisa memasuki fase risk off yang lebih dalam.

“Secara teknikal, area 7.500–7.600 menjadi zona penopang psikologis penting (IHSG),” ujar Hendra

Sementara itu, apabila ketegangan mereda dan rupiah stabil, IHSG berpeluang rebound (berbalik menguat) bertahap ke kisaran 7.900-8.100 pada akhir Maret 2026.

“Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal meningkat, indeks masih berisiko menguji kembali area 7.400. Fase ini lebih tepat disebut sebagai periode konsolidasi dengan volatilitas tinggi, bukan perubahan tren jangka panjang, selama fundamental ekonomi domestik tetap terjaga,” ujar Hendra.

Bagi investor, Ia mengatakan situasi ini menuntut keseimbangan antara kehati-hatian dan keberanian mengambil peluang.

"Tidak perlu panik, tetapi juga tidak bijak bersikap terlalu agresif. Pendekatan bertahap, fokus pada emiten berfundamental kuat dan arus kas sehat, serta disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci," ujar Hendra.

Dalam periode penuh ketidakpastian seperti saat ini, menurutnya, kualitas portofolio dan pengaturan porsi investasi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengejar momentum jangka pendek.

Sebagai informasi, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB atau layak investasi (investment grade).

Revisi outlook menjadi negatif mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Fitch menilai sentralisasi pengambilan kebijakan yang semakin kuat berpotensi mempengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.

Namun demikian, penegasan peringkat di level BBB didukung rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang cukup baik, rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif moderat, serta cadangan devisa (cadev) yang memadai.

Data perdagangan sesi II pada Rabu (04/03) pukul 14.07 WIB, IHSG bergerak melemah 417,95 poin atau 5,26 persen ke posisi 7.521,81, sejalan dengan pelemahan bursa saham kawasan Asia.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.503.431 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 41,16 miliar lembar saham senilai Rp21,43 triliun. Sebanyak 38 saham naik 743 saham menurun, dan 35 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: IHSG turun 4 persen, investor beralih ke emas dan dolar

Baca juga: BEI pastikan koreksi IHSG imbas eskalasi konflik Iran dengan AS-Israel

Baca juga: Pasar cermati perkembangan konflik Iran-AS, IHSG berpotensi melemah

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |