Alwi Shihab: Dialog bersama Presiden di Istana luruskan kesalahpahaman

2 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Agenda diskusi kebangsaan di Istana Merdeka pada Selasa (3/3) antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan tokoh bangsa, termasuk mantan presiden dan anggota Kabinet Merah Putih, adalah upaya Presiden meluruskan kesalahpahaman terkait kebijakan nasional.

Menurut menteri luar negeri (menlu) RI periode 1999-2001 Alwi Shihab, Presiden Prabowo dalam kesempatan tersebut memberikan penjelasan yang begitu dalam mengenai alasannya mengambil langkah tertentu dalam sejumlah kebijakan.

“Karena banyak kesalahpahaman yang terjadi, Pak Prabowo merasa perlu menjelaskan kepada masyarakat soal sebabnya begini dan begitu,” kata Alwi Shihab ditemui setelah mengikuti agenda buka puasa bersama Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Rabu.

Alwi Shihab menyampaikan bahwa agenda diskusi tersebut dinilai sesuai dengan keinginan para tokoh bangsa yang menginginkan Presiden Prabowo untuk dapat menyampaikan sendiri penjelasan yang ingin beliau sampaikan.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan penjelasan atas keputusan pemerintah dalam kebijakan politik luar negeri, khususnya terkait keikutsertaan RI di Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP).

“Jadi jangan sampai ada kesalahpahaman sehingga nama Pak Prabowo jadi tercemar, dianggap terlalu pro-Amerika, padahal beliau mempunyai alasan yang valid,” kata mantan menlu itu.

Presiden Prabowo Subianto memimpin jalannya agenda Pertemuan Silaturahmi dan Diskusi Kebangsaan pada Selasa malam yang dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kemudian Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo serta sejumlah wapres terdahulu, dan anggota Kabinet Merah Putih.

Selain Alwi Shihab, Hassan Wirajuda dan Marty Natalegawa menjadi mantan menlu yang turut hadir dalam pertemuan Selasa malam itu. Sejumlah pemimpin partai politik juga ikut serta dalam dialog kebangsaan tersebut.

Hassan Wirajuda, menlu RI periode 2001-2009, menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menjabarkan situasi geopolitik terkini, termasuk mengenai dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Ia mengatakan bahwa Presiden Prabowo kemudian mengajak para tokoh yang hadir untuk berembuk tentang bagaimana seharusnya Indonesia menempatkan diri, mengingat implikasi dari eskalasi di Teluk tidak hanya kepada urusan keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga terhadap perekonomian.

Baca juga: FPCI: Indonesia perlu sikap jelas di tengah perubahan global

Baca juga: Ketika dialog tak selalu diekspos: Prabowo dan dialog deliberatif

Baca juga: Didesak mundur dari Dewan Perdamaian, Istana buka dialog dengan MUI

Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |