Yayasan Astra dampingi petani buah naga tembus pasar modern dan ekspor

2 hours ago 2
Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya

Banyuwangi (ANTARA) - Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mendampingi petani buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan standar budidaya dan manajemen usaha sehingga mampu memperkuat daya saing produk, memperluas akses ke pasar modern dan ekspor ke mancanegara.

Ketua Pengurus Yayasan Astra-YDBA Rahmat Samulo mengatakan pendampingan dilakukan melalui Pusat Pendampingan UMKM (PPU) Banyuwangi.

"PPU menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budidaya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost and Delivery pasar modern lokal maupun luar negeri," kata Rahmat di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.

Ia mengatakan penguatan kapasitas petani tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperluas peluang usaha berbasis buah naga melalui pengembangan rantai pasok dan produk turunannya.

"Kami juga melakukan fasilitasi pasar agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini mengatakan pendampingan tersebut membantu kelompok tani memperluas akses pemasaran yang sebelumnya hanya bergantung pada pasar tradisional.

"Kalau sekarang kita sudah banyak punya pasar sendiri. Pasar tradisional punya, pasar modern punya. Jadi hasil produk kita sudah punya pasar dengan harga tawar," ungkap Sumartini.

Baca juga: Astra gandeng UMKM dari berbagai daerah di Inacraft 2026

Kelompok tersebut awalnya membudidayakan cabai merah sejak 2006 sebelum beralih menanam buah naga pada 2013 akibat fluktuasi harga cabai. Pada 2016, kelompok mulai menerapkan budidaya buah naga organik sebagai upaya membangun usaha tani yang lebih berkelanjutan.

Saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe memiliki 30 anggota aktif yang mengelola lahan penanaman buah naga seluas 9,2 hektare.

"Beralihnya karena harga. Kalau cabai, sekali tanam tiga bulan panen. Setelah itu kalau sudah habis, kita kelabakan cari modal lagi. Kalau buah naga, sekali tanam tinggal dirawat dan hasilnya terus-menerus," ucap dia.

Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini bersama anggota kelompok membawa hasil panen buah naga organik di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

Kelompok tani tersebut kini memasarkan buah naga organik ke pasar modern, hotel dan pemasok supermarket, serta pernah menyiapkan pengiriman untuk pasar ekspor bersama mitra usaha.

Bersama perusahaan pengekspor buah PT Nusa Tropical Indonesia yang beroperasi dengan merek Nusa Fresh, kelompok juga pernah menyiapkan 1,7 ton pengiriman buah naga untuk pasar ekspor ke Singapura pada 2022–2023.

Sumartini menambahkan pada 2025-2026 melalui Agro Resources Indonesia kelompok juga telah mengekspor sebesar 11,8 ton buah naga ke Singapura.

Pada 2025, kelompok tani juga mengirimkan sampel buah naga untuk pengembangan produk olahan buah naga ke Belanda.

"Kita sekarang sudah bisa kirim ke supermarket, terus ke hotel-hotel. Terus kita juga pernah menyiapkan ekspor ke Singapura dan ke Eropa," ujarnya.

Perluasan saluran pemasaran tersebut memberi petani posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan ketika hanya mengandalkan pasar tradisional.

Menurut dia, kelompok tani juga memperoleh pendampingan untuk memenuhi berbagai persyaratan usaha, termasuk sertifikasi, hak kekayaan intelektual (HAKI), dan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sehingga produk lebih mudah dipasarkan.

"Kalau dulu, apa kata pasar. Walaupun harga rendah, kita petik. Kalau sekarang kita pasti punya harga tawar," tuturnya.

Koordinator Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Banyuwangi Zuri (kiri) memberikan penjelasan ke pewarta mendampingi Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumartini (kanan) di Packing House Buah Naga Sehat, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

Program pendampingan tersebut melanjutkan pembinaan yang lebih dulu dilakukan melalui Desa Sejahtera Astra (DSA) di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pasanggaran, Banyuwangi.

Koordinator Yayasan Astra-YDBA Banyuwangi Zuri mengatakan pembinaan terhadap petani buah naga bermula dari kondisi sektor buah naga Banyuwangi yang mengalami tekanan harga pada 2017-2018.

Saat itu, harga buah naga grade A hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram (kg) sehingga pembinaan awal difokuskan pada penguatan akses pasar.

Seiring pendirian cabang YDBA Banyuwangi pada 2021 dan perkembangan program, pendampingan kemudian diperluas hingga mencakup aspek budidaya dan penguatan kapasitas petani.

"Kendalanya ternyata tidak hanya di harga, tetapi juga di aspek budidayanya, bahkan petani yang membudidayakan juga membutuhkan pembinaan," kata Zuri.

Melalui program tersebut, petani memperoleh pelatihan mengenai budidaya, manajemen usaha, administrasi kelompok, hingga tata kelola pascapanen yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar modern.

Baca juga: Astra hadirkan rumah tanam melon hidroponik di Yogyakarta

Baca juga: Kemen UMKM-YDBA kembangkan model agar UMKM masuk rantai pasok industri

Baca juga: Kemenkop UKM ajak YDBA kembangkan UMKM berbasis teknologi dan inovasi

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |