Tren desain interior bergeser ke fungsi ruang dan nilai emosional

1 hour ago 1

Jakarta (ANTARA) - Tren desain interior global kini bergerak dari konsep less is more (lebih sedikit berarti lebih banyak), menuju less is better (lebih sedikit berarti lebih baik), yakni setiap elemen ruang dituntut memiliki nilai dari sisi fungsi, kualitas material, maupun kontribusinya terhadap pengalaman emosional penghuni.

Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) DKI Jakarta Ariya Sradha mengatakan detail kecil seperti sakelar dan stopkontak memiliki peran dalam menjaga kesatuan visual ruang.

"Dalam merancang sebuah hunian, detail kecil seperti sakelar dan stopkontak memiliki peran besar dalam menjaga kesatuan visual ruang. Desain yang terlalu menonjol atau tidak selaras dapat mengganggu keseluruhan komposisi," kata Ariya di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Megabuild Indonesia 2026 diselenggarakan pada 4 Juni di PIK 2

Pendekatan tersebut dikenal sebagai minimalisme hangat (warm minimalism) yang menekankan penggunaan material alami, tekstur yang kaya, serta teknik pelapisan untuk menghadirkan kedalaman ruang tanpa mengorbankan prinsip kesederhanaan.

Desain interior sebuah ruangan tidak hanya berhubungan dengan estetika, namun, juga keselamatan penghuninya.

Ariya menegaskan edukasi keselamatan listrik perlu menjadi perhatian sejak tahap awal perencanaan hunian. Dia menilai kontraktor dan desainer memiliki tanggung jawab menjelaskan konsekuensi nyata dari instalasi listrik yang tidak memenuhi standar keamanan.

"Dengan menambah sedikit dari total anggaran, keselamatan bisa mengamankan investasi yang bernilai miliaran. Jangan dilihat dari harganya saja," ujar dia.

Risiko instalasi listrik yang kurang terencana juga sering muncul dalam kebiasaan sehari-hari, seperti penggunaan kabel ekstensi yang disambung berlapis-lapis untuk memenuhi kebutuhan daya yang tidak diantisipasi sejak awal. Kebiasaan tersebut, selain berpotensi memicu korsleting, juga dinilai mengganggu estetika ruang yang telah dirancang.

Baca juga: Teknologi digital jadi kunci efisiensi sistem kelistrikan nasional

Sutradara sekaligus pemengaruh bidang gaya hidup Kristo Immanuel menggambarkan dampak instalasi listrik yang buruk sebagai efek domino. Dia mencontohkan ketika laptop, yang berisi dokumen pekerjaan seperti naskah film bisa rusak jika tersambung ke stop kontak yang tidak aman.

"Kalau colokan tidak aman, laptop rusak, charger rusak. Efek dominonya ada di situ," kata Kristo.

Aspek keselamatan listrik juga mencakup perlindungan dari bahaya yang tidak selalu terlihat. Berbeda dengan Miniature Circuit Breaker (MCB) yang hanya memutus arus saat kelebihan beban, Residual Current Breaker with Overcurrent protection (RCBO) mampu mendeteksi kebocoran arus dan memutus aliran listrik secara otomatis, termasuk dalam kondisi lembap atau banjir.

Merespons kebutuhan tersebut, Schneider Electric meluncurkan Vivace E sebagai lini sakelar dan stopkontak yang menggabungkan fungsi, estetika, dan perlindungan kelistrikan dalam satu kesatuan. Produk tersebut dilengkapi fitur pelindung (safety shutter) berstandar SNI dan bersertifikat International Electrotechnical Commission (IEC), serta sistem pembumian (grounding) untuk perlindungan sehari-hari.

"Konsumen tidak lagi memilih antara desain atau keamanan, mereka menginginkan keduanya dalam satu solusi yang seimbang," kata Presiden Direktur Schneider Electric Indonesia dan Timor-Leste Martin Setiawan.

Baca juga: Kiat efisienkan penggunaan energi menurut pakar

Baca juga: Survei: 98 persen pemimpin bisnis Indonesia fokus pada keberlanjutan

Baca juga: Schneider Electric perluas basis litbang di Shanghai, China

Pewarta: Ida Nurcahyani/Niswah Qintara Rahmani
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |