Jakarta (ANTARA) - Dr. Cintawati Farmanina, M.Biomed (AAM) mengatakan setiap pasien memiliki kapasitas area donor yang berbeda sehingga penggunaan folikel untuk transplantasi rambut perlu direncanakan dengan cermat.
"Pada tindakan pertama, prioritas kami adalah memperbaiki area hairline, menutup bekas luka, serta mengisi area crown yang mengalami penipisan. Saat itu jumlah folikel donor yang tersedia memang terbatas, sementara area yang perlu ditangani cukup luas," kata Cintawati dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Dokter spesialis transplantasi rambut dan praktisi estetika medis itu mengatakan kondisi tersebut membuat transplantasi rambut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan area yang menjadi prioritas.
Baca juga: Ahli paparkan keuntungan lakukan transplantasi rambut di Indonesia
Dokter juga perlu mengatur folikel yang tersedia agar hasil terlihat natural sekaligus menjaga kondisi area donor untuk jangka panjang.
"Pendekatannya memang bertahap. Kami ingin memastikan kualitas donor tetap terjaga sehingga kepadatan rambut dapat ditingkatkan secara optimal tanpa mengorbankan hasil jangka panjang," ujar dokter lulusan Universitas Udayana itu.
Maka dari itu, transplantasi rambut tahap kedua tidak selalu berarti hasil dari tindakan pertama tidak sesuai harapan.
Baca juga: Mengenal proses transplantasi rambut, solusi untuk atasi kebotakan
Lebih lanjut Cintawati mengatakan perkembangan teknologi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penampilan serta kesehatan rambut membuat transplantasi rambut semakin dipandang sebagai bagian dari solusi untuk menangani kerontokan dan penipisan rambut, bukan sekadar persoalan estetika.
Berdasarkan data internal Farmanina Hair & Aesthetic Clinic, permintaan terhadap prosedur transplantasi rambut di klinik tersebut tercatat meningkat empat kali lipat sepanjang periode 2023-2026.
Salah satu kasus yang dicontohkannya yakni pada tahap prosedur yang dijalankan oleh Aktor Ringgo Agus Rahman, di mana sejak awal perawatan memang dirancang untuk dilakukan dalam beberapa tahap dengan menyesuaikan kondisi rambut dan ketersediaan area donor.
Baca juga: Layanan konsultasi transplantasi rambut ASMED INDONESIA resmi dibuka
Setelah menjalani prosedur pertama sekitar tiga tahun lalu, Ringgo menjalani serangkaian perawatan untuk menjaga sekaligus meningkatkan kualitas area donor. Setelah melalui evaluasi dokter, kondisi donor kemudian dinilai siap untuk kembali menjalani tindakan.
Pada tahap kedua, Ringgo menjalani transplantasi rambut dengan teknik Direct Hair Implantation (DHI).
Penanganan secara bertahap tersebut menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kepadatan rambut dengan tetap mempertimbangkan kondisi area donor yang tersedia.
Ringgo mengatakan keputusan menjalani transplantasi rambut tahap kedua bukan karena hasil transplantasi pertamanya tidak sesuai harapan. Sejak awal, ia mengetahui bahwa proses tersebut dilakukan secara bertahap.
Baca juga: Ahli kesehatan: Transplantasi bisa jadi opsi terapi kebotakan
"Saya melihat banyak teman-teman artis yang hasil transplantasinya bagus dan mereka mengerjakannya di Indonesia. Itu yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih klinik. Jadi saya merasa tidak perlu ke luar negeri dan kontrol dan after care juga jauh lebih mudah," kata Ringgo.
Menurut Ringgo, kemudahan kontrol menjadi salah satu pertimbangan dalam menjalani prosedur tersebut di Indonesia. Ia memahami bahwa transplantasi rambut bukan prosedur yang hasilnya dapat langsung terlihat dalam hitungan hari karena rambut membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berkembang.
Ia juga menilai transplantasi rambut menjadi bagian dari investasi untuk mendukung pekerjaannya sebagai aktor, sehingga diharapkan kondisi rambut yang semakin rapat dan natural seiring proses pertumbuhan dapat memberinya lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi karakter dalam proyek film maupun serial mendatang.
Baca juga: Shandy Sjariff makin percaya diri usai transplantasi rambut
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































