Bupati Banyumas dorong Etalase Pertanian pangkas mata rantai pasok

1 hour ago 3

Banyumas (ANTARA) - Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mendorong pengembangan Etalase Pertanian di pasar tradisional untuk memangkas mata rantai perdagangan hasil pertanian sekaligus memperluas akses petani dan pedagang terhadap pasar.

Usai menggelar pertemuan dengan pengelola Etalase Pertanian di Pasar Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu siang, ia mengatakan inovasi tersebut berkembang jauh melampaui gagasan awal dan layak diterapkan di pasar lainnya.

"Ini sebetulnya saya tidak berekspektasi sampai ke sini. Saya awalnya hanya ingin membuat Etalase Pertanian untuk mendata bibit-bibit yang dimiliki petani," katanya.

Ia mengatakan pendataan tersebut memungkinkan pemerintah mengetahui jenis dan ketersediaan bibit yang dimiliki petani sehingga dapat mempertemukan kebutuhan dengan pemilik bibit secara lebih mudah.

Akan tetapi setelah pengelolaan diserahkan kepada petani milenial, kata dia, konsep tersebut berkembang menjadi Etalase Pertanian yang juga berfungsi mempertemukan hasil pertanian lokal dengan kebutuhan pasar.

“Pasar Ajibarang menjadi proyek percontohan dan menunjukkan hasil positif,” katanya.

Ke depan, kata dia, Etalase Pertanian diharapkan terbentuk di berbagai wilayah Banyumas, terutama untuk mendukung kebutuhan bahan pangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut dia, keberadaan SPPG semestinya mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat tingkat bawah, mulai dari petani hingga pedagang.

Akan tetapi, kata dia, sejumlah pedagang sebelumnya mengeluhkan bahan pangan untuk SPPG justru didatangkan dari luar Banyumas.

"Pedagang-pedagang banyak yang mengeluh. Mereka justru tidak laku karena barang yang datang dari luar Banyumas," katanya.

Baca juga: BGN minta SPPG utamakan produk lokal dalam Program MBG

Baca juga: BGN tegaskan peran MBG serap produksi beras hingga sayuran petani

Melalui Etalase Pertanian, kata dia, kebutuhan SPPG dapat dipenuhi dari hasil pertanian lokal.

Menurut dia, petani memperoleh harga dan pembayaran yang lebih baik, sedangkan SPPG mendapatkan pasokan tanpa harus mendatangkan komoditas dari luar daerah.

Ia mengatakan Etalase Pertanian di Pasar Ajibarang yang baru berjalan sekitar satu bulan telah mengelola kebutuhan tiga dapur SPPG dengan omzet sekitar Rp500 juta per bulan.

"Perputarannya betul-betul ada di teman-teman petani, tidak memakai tengkulak. Ini memotong mata rantai pasokan," katanya.

Ia mengatakan pengelolaan Etalase Pertanian tersebut dilakukan secara mandiri tanpa membebani APBD dan telah mempekerjakan tujuh karyawan.

Ia mengharapkan sebagian keuntungan juga dapat dikembalikan untuk mendukung petani.

Selain itu, kata dia, konsep tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan jarak distribusi.

Menurut dia, satu Etalase Pertanian idealnya melayani kebutuhan SPPG di sekitar tiga hingga empat kecamatan agar pengiriman tetap efisien.

"Kalau lebih dari itu sudah tidak efisien karena terlalu jauh," katanya.

Selain memperkuat Etalase Pertanian, ia juga mendorong koperasi simpan pinjam hadir di pasar untuk membantu pedagang yang kesulitan mengakses pembiayaan perbankan.

Sadewo mengatakan inovasi Etalase Pertanian Ajibarang bahkan telah mendapat perhatian kementerian dan diharapkan dapat menjadi contoh penguatan rantai pasok pertanian yang bisa diterapkan di daerah lain di Indonesia.

Baca juga: Bupati Pati: Telur peternak lokal diprioritaskan penuhi kebutuhan SPPG

Baca juga: SPPG Situbondo sepakati peternak lokal pasok telur untuk program MBG

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |