PLN bangun green energy ecosystem technopark di Pulau Rengit  ‎

2 hours ago 7

Tanjungpandan (ANTARA) - PT PLN (Persero) resmi menghadirkan ekosistem energi bersih berbasis Green Energy Ecosystem Technopark di Pulau Rengit, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.

‎Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra di Tanjungpandan, Sabtu mengatakan peluncuran inovasi kelistrikan ini merupakan langkah bersejarah dalam mendukung komitmen pemerintah mewujudkan kemandirian listrik nasional dan ketahanan energi.

‎"Hari ini merupakan momen yang sangat bersejarah. Kita hadir di sini untuk menyaksikan secara langsung beroperasinya sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan sebuah proyek percontohan pertama dari PLN yang menjadi bukti nyata komitmen kita bersama dalam menjawab tantangan besar dari Bapak Presiden," katanya saat meresmikan Green Energy Ecosystem Technopark di Pulau Rengit, Desa Pegantungan, Belitung.

‎Proyek percontohan ini berhasil mengurangi ketergantungan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sekaligus mewujudkan pasokan listrik ramah lingkungan 24 jam penuh bagi masyarakat di wilayah 3 T.

‎Sebelum adanya proyek percontohan ini, Pulau Rengit yang dihuni sekitar 44 kepala keluarga (KK) atau 150 jiwa hanya bisa menikmati pasokan listrik selama 12 jam pada malam hari.

‎Kelistrikan desa sebelumnya mengandalkan dua unit generator set (genset) diesel berkapasitas 100 kilowatt (kW)..

‎"Biaya operasional BBM yang sangat tinggi memaksa pembatasan jam nyala," ujarnya.

Baca juga: DEN apresiasi pembangunan GEET di Pulau Rengit Belitung

Baca juga: GHES 2026: Tegaskan Komitmen, PLN Terus Bangun Ekosistem Hidrogen Nasional

‎Ia mengatakan, kondisi yang terbatas tersebut sempat menghambat potensi ekonomi daerah itu.

‎"Nelayan setempat tidak bisa mengoperasikan fasilitas pendingin ikan (cold storage)," katanya.

‎Kini, lanjut dia, lewat pengoperasian Green Energy Ecosystem Technopark pasokan listrik di Pulau Rengit telah beroperasi 24 jam penuh.

‎"Konsumsi listrik warga melonjak signifikan dari 70 (kWh) menjadi 172 kWh, yang secara langsung mendorong geliat perekonomian nelayan dan memicu pertumbuhan ekonomi," katanya.

‎Edwin menjelaskan, teknologi yang diterapkan di Pulau Rengit mengintegrasikan beberapa sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) modern secara canggih salah satunya yakni PLTS Agrivoltaic (80 kWp).

‎"Panel surya dibangun ditinggikan di atas lahan sekitar 800 hingga 1.000 meter persegi. Bagian bawahnya dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan yang cocok dengan naungan panel, bekerja sama dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk mendukung ketahanan pangan," ujarnya.

‎Selain itu ada juga sistem baterai modern guna menyimpan kelebihan produksi energi surya pada siang hari disimpan ke dalam sistem baterai canggih berkapasitas 2x100 kWh untuk disalurkan saat malam hari.

‎"Kemudian juga dilengkapi generator angin tipe vertikal dan horizontal yang dapat berputar pada kecepatan angin rendah dengan," katanya.

‎Edwin menekankan, penerapan integrasi teknologi EBT di Pulau Rengit tidak hanya menjadi solusi konkret bagi daerah terpencil di Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi percontohan teknologi energi hijau bagi dunia.

‎"Sistem ini adalah bukti bahwa masyarakat di daerah terpencil pun berhak dan bisa menikmati listrik bersih, mandiri, dan andal selama 24 jam. Semoga fasilitas ini dapat dijaga bersama dan menjadi pemantik roda perekonomian masyarakat setempat," ujarnya.

Baca juga: PLN tetapkan Bali percontohan transformasi sistem smart grid nasional

Baca juga: Tenaga Ahli Menteri ESDM: Peralihan ke EBT jadi keharusan strategis

Pewarta: Kasmono/Apriliansyah
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |