Jakarta (ANTARA) - Film The General's Son, yang dirilis pada 1990, bercerita tentang Kim Du, petarung jalanan yang besar di panti asuhan dan berhenti sekolah saat umur 10 tahun untuk hidup di jalanan.
Film itu menjadi salah satu film yang diputar dalam pergelaran K-Movie Screening, yang menjadi bagian dalam rangkaian pameran foto My Wish, Our Wish: Road to Freedom. Pameran yang digelar pada 12-31 Agustus tersebut merupakan hasil kolaborasi Kantor Berita ANTARA dengan pusat kebudayaan Korsel, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).
Film itu digarap sutradara Im Kwon taek dengan genre aksi drama sejarah Korea Selatan dengan latar pendudukan Jepang pada 1930-an.
Film itu menceritakan kisah Kim Du han yang diperankan Park Sang min, yakni seorang pemuda yang dibesarkan di sebuah panti asuhan yang kemudian menjadi seorang pemimpin gangster di Seoul.
Kim Du han tumbuh tanpa sosok ibu dan besar di jalanan sejak usia delapan tahun dan hidup dengan bekerja secara serabutan.
Perlahan kehidupannya berubah saat kemampuan bertarung mulai tumbuh. Dia lantas bergabung dengan sebuah kelompok lewat tempat hiburan di pusat Jongno.
Reputasi secara perlahan ia bangun lewat keterampilan bertarung yang semakin lama semakin berkembang dan membuatnya kian dikenal di dunia premanisme.
Lebih jauh, Du han lantas tak hanya dikenal sebagai jagoan jalanan. Dia akhirnya mendapati bahwa dirinya merupakan seorang putra dari sosok berpengaruh, yakni Jenderal Kim Jwa Jin yang merupakan pejuang yang melawan tentara Jepang.
Identitas baru yang ia ketahui itu lantas memberi makna dalam hidupnya. Dia menyadari bahwa dirinya bukan sekadar anak jalanan, namun juga punya marga dari sosok orang yang mewariskan darah pejuang.
Film ini diwarnai dengan pertarungan kelompok Du han melawan kelompok yakuza Jepang untuk memperebutkan wilayah.
Pertarungan itu secara tidak langsung menjadikan Du han sebagai pejuang. Dia melindungi pedagang Korea dari tekanan kelompok Jepang. Kepercayaan masyarakat pun akhirnya ia dapatkan.
Secara umum, film ini memang tidak secara eksplisit menyampaikan nasionalisme secara gamblang dan jelas. Namun, tindakan yang dilakukan Du han menjadi inspirasi dan kekuatan utama dalam film ini.
Aksi pertarungan dalam film ini terasa lebih sederhana bila dibandingkan film aksi masa kini, namun film ini seakan menjadi identitas pertarungan khas.
Hal lain yang menjadi daya tarik adalah keberhasilan sosok Du han yang merupakan anak jalanan, namun perlahan bangkit dan mampu mengembangkan statusnya yang merupakan anak yatim yang dibesarkan di panti asuhan.
Keberhasilannya juga terlihat dari pakaiannya yang semula selalu lusuh kemudian menjadi lebih rapi dan berkelas kala masuk pada dunia premanisme. Tampilan yang berubah itu seakan memperlihat peningkatan status sosialnya.
Sorotan utama film ini memang pada sosok Du han, sehingga karakter pendukung lainnya tak mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam.
Efek suara pertarungan yang dihadirkan juga masih sederhana dan menjadi identitas tersendiri bagi film aksi ini.
Lebih dari soal kemampuan bertarung, film ini menyiratkan pesan bahwa keberanian dan persatuan mampu menjadi upaya dalam mempertahankan kehormatan diri terlebih dalam situasi sejarah yang tak mudah.
Film The General's Son yang dirilis pada 1990 ini menjadi pembuka untuk trilogi yang berfokus pada era militer Jepang di Korea Selatan.
Film ini menjadi nomor satu di Korea Selatan pada 1990-1991 serta membuat rekor dengan ditonton oleh ratusan ribu penonton di bioskop lokal di Seoul pada awal masa kebangkitan sinema di Korea.
Kesuksesan ini pun menjadi pendongkrak karir bagi sosok Park Sang Min.
Tanggapan penonton
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































