Tradisi Labuhan Sarangan di Magetan jadi Warisan Budaya Takbenda

3 hours ago 2
Labuhan Sarangan bukan hanya ritual, melainkan warisan budaya adiluhung yang sarat makna

Magetan (ANTARA) - Tradisi Labuhan Sarangan yang menjadi adat warga Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI sehingga membanggakan warga setempat di kancah nasional.

Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti mengatakan bahwa Labuhan Sarangan yang merupakan tradisi bersih desa warga Kelurahan Sarangan menjelang Ramadhan memiliki makna spiritual dan budaya yang mendalam.

"Labuhan Sarangan bukan hanya ritual, melainkan warisan budaya adiluhung yang sarat makna. Tradisi ini merupakan wujud syukur atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan, sekaligus bentuk penghormatan kepada alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat," ujar Bupati Nanik dalam kegiatan Labuhan Sarangan 2026 di Telaga Sarangan Magetan, Jumat.

Menurutnya, tradisi itu menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga harmoni dengan alam, khususnya Telaga Sarangan yang selama ini menjadi ikon pariwisata dan sumber kehidupan warga sekitar.

Baca juga: Pemkab Batang wujudkan tari Babalu jadi identitas budaya nasional

Ia menambahkan, nilai-nilai seperti spiritualitas, gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus ditanamkan kepada generasi muda agar tradisi tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan Joko Trihono menambahkan bahwa pengakuan WBTb Larung sesaji atau Labuhan Sarangan merupakan pencapaian besar bagi masyarakat Sarangan yang selama ini menjaga kelestarian tradisi labuhan.

"Labuhan Sarangan adalah tradisi leluhur yang sarat nilai adat. Kini telah resmi terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda," katanya.

Joko menyebutkan, Labuhan Sarangan ke depan diharapkan dapat masuk dalam kalender event nasional sebagai salah satu atraksi budaya yang membanggakan Magetan.

Baca juga: Pemkab OKI terima lima sertifikat warisan budaya tak benda

Tradisi tersebut, lanjut Joko, merupakan ungkapan syukur masyarakat atas anugerah alam yang indah, telaga yang cantik, serta tanah yang subur.

"Seluruh hasil bumi kemudian dilarungkan ke telaga sebagai simbol sinergi manusia dengan alam," kata dia.

Ia menegaskan, penjagaan nilai-nilai adat serta kelestarian lingkungan adalah inti dari pelaksanaan Labuhan Sarangansetiap tahunnya.

Selain melestarikan budaya, Joko berharap agenda Labuhan Sarangan bisa menjadi daya tarik tersendiri dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Telaga Sarangan Magetan.

Sesuai data, jumlah pengunjung tempat wisata Telaga Sarangan selama tahun 2025 tercatat mencapai 1.094.668 wisatawan dengan perolehan pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp20,202 miliar.

Jumlah itu naik dibandingkan kunjungan tahun 2024 yang berjumlah 1.080.666 orang dengan capaian PAD sebesar Rp20,102 miliar.

Baca juga: Pemkab Jepara terima enam sertifikat warisan budaya tak benda

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |