Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai budaya tidak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai kekuatan ekonomi sekaligus instrumen diplomasi (soft power) di kancah global.
Oleh karena itu, pengelolaan atraksi budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga dinilai potensial untuk jadi destinasi unggulan baik di tingkat nasional maupun internasional.
"Dari tiket masuk saja bisa menghasilkan pendapatan miliaran rupiah. Ini menunjukkan bahwa budaya bisa menjadi bagian dari cultural economy dan cultural industry yang kuat," kata dalam acara Pradana Nitya Budaya TMII Awards 2026 di TMII, Jakarta Timur, Jumat.
Fadli menekankan bahwa pengelolaan budaya yang tepat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan industri berbasis budaya.
Menurutnya, sejumlah negara telah membuktikan bahwa situs budaya mampu menjadi sumber pendapatan yang signifikan jika dikelola secara profesional.
Dia mencontohkan pengalamannya saat mengunjungi Istana Versailles di Prancis yang mampu menarik sekitar 30.000 pengunjung setiap hari.
Fadli pun optimis TMII memiliki potensi serupa untuk berkembang menjadi destinasi unggulan di tingkat global.
Namun, hal tersebut memerlukan pengelolaan yang optimal, termasuk peningkatan kualitas layanan, pengayaan atraksi budaya, serta integrasi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Baca juga: Fadli Zon dorong TMII lebih dekat dengan generasi muda
Selain itu, Fadli menambahkan, pemerintah membuka peluang kerja sama lintas sektor guna mendorong transformasi TMII menjadi destinasi budaya, sejarah, sekaligus hiburan kelas dunia.
Lebih jauh, ia menyoroti kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa. Dia menyebut Indonesia bukan sekadar negara dengan keberagaman, tetapi sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi (mega diversity) yang memiliki spektrum budaya sangat luas.
"Indonesia memiliki 718 bahasa, 1.340 suku bangsa, dan lebih dari 17 ribu pulau. Seluruh kekayaan itu tergambar di TMII," ucap Fadli.
TMII sendiri sejak awal dibangun sebagai miniatur Indonesia yang menampilkan anjungan daerah dari berbagai provinsi, lengkap dengan arsitektur khas serta nilai filosofis masing-masing budaya.
Kawasan ini juga menjadi ruang edukasi yang memungkinkan masyarakat mengenal lebih dekat tradisi, seni pertunjukan, hingga pengetahuan lokal dari seluruh nusantara.
Didirikan atas inisiatif Presiden ke-2 RI, Soeharto, bersama Siti Hartinah, TMII menjadi simbol visi besar untuk merangkum keberagaman Indonesia dalam satu kawasan terpadu.
Dengan potensi tersebut, pemerintah berharap TMII tidak hanya menjadi destinasi wisata domestik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global sebagai pusat budaya yang produktif, edukatif, dan bernilai ekonomi tinggi.
Baca juga: Menbud: TMII Awards dorong inovasi daerah lestarikan budaya
Baca juga: Kemenbud dorong revitalisasi anjungan TMII sebagai etalase daerah
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































