Terapi suara non-invasif tingkatkan harapan bagi pengobatan alzheimer

23 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Sekelompok ilmuwan China telah menunjukkan bahwa terapi suara sederhana dan non-invasif bisa menghasilkan perubahan biologis yang signifikan dan bertahan lama pada monyet yang sudah tua.

Temuan ini menawarkan harapan baru untuk potensi pengobatan fisik penyakit Alzheimer.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) itu dipimpin oleh para peneliti dari Institut Zoologi Kunming (Kunming Institute of Zoology/KIZ) yang dinaungi Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences).

Upaya penelitian ini berfokus pada penggunaan nada auditori berfrekuensi 40 hertz, yang setara dengan dengungan rendah dalam rentang pendengaran manusia.

Penelitian sebelumnya pada tikus telah menunjukkan bahwa stimulasi berfrekuensi 40 hertz dapat membantu menyingkirkan protein beracun terkait Alzheimer dari otak, dan penelitian terbaru ini memberikan bukti penting pertama yang berasal dari primata nonmanusia.

Pada penyakit Alzheimer, sebuah protein yang dikenal sebagai beta-amyloid cenderung menumpuk dan membentuk plak, sehingga merusak sel otak dan mengganggu daya ingat dan fungsi kognitif. Biasanya, otak membersihkan limbah semacam itu melalui cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF).

Tim dalam penelitian ini meneliti sembilan ekor monyet rhesus tua, yang otaknya secara alami mengalami plak serupa Alzheimer, menjadikan hewan itu model yang sangat relevan untuk meneliti kondisi pada manusia. Monyet-monyet tersebut diperdengarkan nada berfrekuensi 40 hertz selama sejam setiap hari dalam sepekan.

Hasilnya begitu mencengangkan. Kadar protein utama terkait Alzheimer pada CSF monyet-monyet tua tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat setelah periode pengobatan itu. Ini berarti lebih banyak limbah berhasil disingkirkan.

"Hal yang paling menakjubkan adalah efek itu bertahan lama. Saat kami melakukan pengukuran lima pekan usai pengobatan suara itu berakhir, perubahan yang bermanfaat tersebut tidak memudar," urai Hu Xintian, seorang peneliti di KIZ.

Terapi obat yang saat ini telah disetujui untuk penyakit Alzheimer, meski efektif bagi beberapa pasien, berpotensi menimbulkan risiko seperti pembengkakan otak dan juga berbiaya tinggi. Sebaliknya, stimulasi auditori berfrekuensi 40 hertz mewakili intervensi fisik yang aman dan berbiaya rendah, papar Hu.

"Efek jangka panjang yang kami amati pada primata mendukung pengembangan pendekatan lunak ini sebagai terapi masa depan untuk Alzheimer," imbuh Hu.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |