Jakarta (ANTARA) -
Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog mengatakan trauma psikologis akibat kecelakaan kereta api berisiko berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), terutama pada korban yang mengalami langsung peristiwa tersebut.
Ratih mengatakan pengalaman kecelakaan yang melibatkan luka serius dan situasi yang mengancam nyawa dapat meninggalkan dampak emosional yang kuat bagi korban.
“Trauma kecelakaan berpotensi sangat besar untuk berkembang menjadi PTSD, terutama jika korban mengalami langsung kejadian, terluka, dan berada dalam situasi yang dekat dengan maut,” kata Ratih ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, kecelakaan sering kali terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan, sehingga memicu guncangan psikologis yang intens. Kondisi ini dapat menimbulkan pengalaman kilas balik atau flashback terhadap kejadian yang dialami.
Baca juga: Perempuan korban kecelakaan hadapi tekanan ganda saat pemulihan
Menurut Psikolog yang tergabung dalam Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI itu, korban bisa terus mengingat kembali peristiwa tersebut secara berulang, seolah-olah kejadian itu terjadi kembali. Hal ini dapat berlangsung dalam jangka waktu cukup lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Pengalaman melihat kematian atau kehilangan secara tragis di depan mata juga memberikan tekanan emosional yang sangat kuat,” ujarnya.
Ratih menambahkan, jika gejala trauma berlangsung lebih dari satu bulan, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi PTSD dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Ia menegaskan bahwa trauma tidak memandang jenis kelamin maupun peran gender. Setiap individu yang mengalami peristiwa traumatis memiliki risiko yang sama untuk mengalami gangguan psikologis.
Namun, ia mengingatkan bahwa faktor sosial, ekonomi, dan budaya dapat memengaruhi tingkat keparahan trauma serta memperlambat proses pemulihan.
“Konteks sosial dan tekanan yang dihadapi individu bisa memperparah kondisi, sehingga pemulihan menjadi lebih lama,” kata dia.
Kecelakaan kereta api di wilayah Bekasi Timur sebelumnya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Peristiwa tersebut juga menyisakan dampak psikologis bagi para penyintas yang mengalami langsung kejadian tersebut.
Ratih menekankan pentingnya penanganan trauma secara tepat agar kondisi korban tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius dan berkepanjangan.
Baca juga: Psikolog: Pemulihan trauma kecelakaan perlu dilakukan bertahap
Baca juga: Psikolog: Trauma kecelakaan kereta bisa picu kecemasan hingga depresi
Baca juga: Mendukbangga: Trauma healing disiapkan untuk korban tabrakan kereta
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































