Tanpa diskon listrik, Menkeu: Inflasi Februari 2026 hanya 2,59 persen

5 hours ago 3
Tanpa pengaruh diskon listrik, inflasi Februari diperkirakan hanya 2,59 persen

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan inflasi pada Februari 2026 diproyeksikan hanya mencapai 2,59 persen secara tahunan (year-on-year), jika pemerintah tidak memberikan diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya.

Ia menuturkan tingkat inflasi melonjak mencapai 4,76 persen yoy pada Februari 2026 karena pemberian diskon tarif listrik sebesar 50 persen sepanjang Januari-Februari 2025 yang membuat pengeluaran masyarakat untuk membayar tarif listrik seolah-olah meningkat secara signifikan.

“(Tingkat inflasi secara keseluruhan) Ini terutama bersifat temporer naiknya akibat low base effect (efek basis rendah) dari diskon listrik pada awal tahun 2025. Tanpa pengaruh diskon listrik, inflasi Februari diperkirakan hanya 2,59 persen,” jelas Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan komponennya, ia menyampaikan inflasi komponen inti naik sebesar 2,63 persen yoy karena didorong oleh peningkatan harga emas dan penguatan demand (permintaan) selama Ramadhan 1447 Hijriah, yang dimulai pada pertengahan Februari 2026.

Sedangkan jika dikelompokkan antara komoditas emas dan non-emas, tingkat inflasi komponen inti non-emas hanya berkisar pada level 1,4 persen yoy.

Baca juga: Depresiasi rupiah sejak perang Iran lebih baik dari negara lain

Baca juga: Rupiah dekati Rp17 ribu, Menkeu: Fundamental ekonomi kuat

“Kenapa angka inflasi (inti) ini penting, karena orang di luar sering melihat yang angka 4,76 persen tadi dan mereka mulai menunjuk (menilai) bahwa ekonomi Indonesia kepanasan (overheated, pertumbuhan terlalu tinggi tanpa diimbangi kemampuan produksi), dan harus diperlambat padahal kita baru mulai tumbuh lebih cepat,” ujarnya.

Purbaya juga menyoroti Inflasi komponen bergejolak/volatile food (pangan) yang meningkat sebesar 4,64 persen yoy karena faktor cuaca dan naiknya permintaan beberapa komoditas, seperti daging ayam, ikan segar dan cabai.

Ia menilai peningkatan tersebut bersifat moderat karena masih berkisar di bawah 5 persen yoy.

Sementara itu, inflasi komoditas dengan harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami kenaikan tertinggi, yakni sebesar 12,66 persen yoy, karena efek basis rendah diskon tarif listrik dan diperkirakan akan mulai mereda pada Maret 2026.

“Secara keseluruhan, dampak kenaikan harga komoditas, termasuk minyak mentah, akan tetap dikelola oleh pemerintah melalui peran APBN sebagai shock absorber (penyerap guncangan) sehingga daya beli terjaga dan stabilitas fiskal tetap terpelihara,” ucap Purbaya.

Meskipun tercatat tinggi pada awal Ramadan, ia memastikan tingkat inflasi secara keseluruhan masih terjaga dalam rentang target 2,5 persen plus minus 1 persen menjelang hari raya Idul Fitri mendatang.

“Inflasi tetap terkendali dan stabilitas harga terjaga. Kinerja ekonomi yang positif tersebut juga semakin inklusif, tercermin dari peningkatan penyerapan tenaga kerja, penurunan tingkat pengangguran, serta berlanjutnya tren penurunan kemiskinan,” katanya.

Baca juga: Pemerintah tak gegabah ubah kebijakan fiskal terkait minyak global

Baca juga: Soal pelemahan IHSG dan rupiah, Purbaya: Ekonomi RI masih ekspansif

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |