Mataram (ANTARA) - Langit malam di Kota Mataram menjelang 1 Syawal tahun ini menyimpan cerita yang tidak biasa. Gema takbir tetap berkumandang, tetapi tidak semua datang pada waktu yang sama.
Di sebagian sudut kota, takbir lebih dulu terdengar pada Kamis malam, 19 Maret 2026. Sementara di sudut lain, gema yang sama baru akan memuncak sehari setelahnya. Perbedaan itu bukan sekadar soal waktu, melainkan cermin dinamika umat yang hidup dalam satu ruang yang sama.
Tahun ini, takbiran di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya berhadapan dengan euforia Lebaran, tetapi juga dengan dua realitas sekaligus, yakni perbedaan penetapan Idul Fitri dan perjumpaannya dengan Hari Raya Nyepi.
Situasi ini menjadikan takbiran bukan sekadar tradisi, melainkan ruang ujian bagi kedewasaan sosial, toleransi, dan kemampuan mengelola perbedaan.
Dua waktu satu makna
Sebagian umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, telah merayakan Idul Fitri lebih awal pada Jumat, 20 Maret 2026. Artinya, malam takbiran bagi kelompok ini berlangsung pada Kamis malam, berdekatan bahkan beririsan dengan suasana Nyepi.
Dalam konteks itu, takbir tidak hadir sebagai riuh yang lepas, melainkan lebih tertahan, lebih reflektif, bahkan cenderung sunyi.
Di sisi lain, pemerintah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Dengan demikian, malam takbiran mayoritas masyarakat berlangsung pada Jumat malam, ketika rangkaian Nyepi telah usai. Ruang ekspresi menjadi lebih terbuka, pawai kembali digelar, dan gema takbir kembali memenuhi jalan-jalan kota.
Dua waktu ini melahirkan dua wajah takbiran dalam satu kota. Yang pertama, takbiran yang beriringan dengan keheningan, menuntut penyesuaian dan pengendalian diri. Yang kedua, takbiran yang hadir setelah keheningan, memberi ruang bagi ekspresi kolektif yang lebih luas.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa takbiran bukan praktik yang kaku. Ia lentur, menyesuaikan diri dengan konteks sosial dan keberagaman yang ada. Perbedaan waktu tidak memecah makna, melainkan memperkaya cara merayakan kemenangan.
Dalam situasi ini, Mataram menunjukkan satu hal penting bahwa perbedaan internal umat tidak harus menjadi sumber gesekan. Justru, ia bisa menjadi ruang pembelajaran untuk saling menghormati dalam skala yang lebih halus.
Baca juga: Hening yang lahir dari riuh
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































