Soal Goa Safarwadi, kenapa masih banyak orang percaya tahayul?

1 week ago 8

Jakarta (ANTARA) - Kepercayaan terhadap hal mistis dan takhayul masih mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia, meskipun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terus maju. Fenomena ini dapat ditelusuri melalui berbagai faktor, termasuk warisan budaya, kebutuhan akan kepastian dalam menghadapi ketidakpastian, serta cara berpikir yang telah lama terbentuk.

Secara historis, kepercayaan pada hal-hal supranatural telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi Indonesia. Cerita-cerita rakyat, legenda, dan mitos yang diwariskan secara turun-temurun memainkan peran penting dalam membentuk pandangan dunia masyarakat.

Misalnya seperti contoh, baru-baru ini, Goa Safarwadi di Pamijahan, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Hal ini dipicu oleh beredarnya video yang menunjukkan antrean panjang warga yang ingin memasuki goa tersebut. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa goa ini memiliki lorong yang dapat menembus langsung ke Mekkah, Arab Saudi.

Menanggapi fenomena ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai klaim tanpa dasar, terutama yang dikaitkan dengan agama. MUI menekankan pentingnya berpikir kritis dan menggunakan akal sehat agar tidak terjebak dalam kepercayaan yang belum terbukti kebenarannya.

Pasalnya, masih banyak masyarakat awam yang menerima informasi semacam itu tanpa terlebih dahulu mencari klarifikasinya. Di era modern ini, penting bagi masyarakat untuk mengedepankan pendekatan kritis dan rasional dalam menanggapi berbagai informasi. Pendidikan dan pemahaman ilmiah perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh klaim-klaim yang tidak berdasar.

Baca juga: Perbedaan empat Mazhab dalam Islam dan pandangan hukum keagamaannya

Alasan sebagian masyarakat masih percaya mistis dan takhayul di era modern

Kepercayaan pada hal mistis dan takhayul sering kali menawarkan jawaban atas fenomena yang sulit dijelaskan secara rasional, sehingga memberikan kenyamanan psikologis bagi individu. Dalam menghadapi situasi yang tidak pasti, manusia cenderung mencari penjelasan yang memberikan rasa kontrol dan rasa kepastian.

Tan Malaka, dalam karyanya yang berjudul "Madilog" (Materialisme, Dialektika, Logika), mengkritisi cara berpikir yang ia sebut sebagai "logika mistika". Ia mendefinisikan logika mistika sebagai cara berpikir yang menganggap bahwa segala sesuatu disebabkan oleh pengaruh hal-hal gaib.

Menurutnya, cara berpikir semacam ini menjadi penghambat kemajuan bangsa, karena masyarakat cenderung pasrah dan menyerahkan nasib pada kekuatan supranatural tanpa berusaha mencari solusi rasional. Tan Malaka menekankan pentingnya beralih dari logika mistika menuju cara berpikir yang rasional dan ilmiah.

Dalam karyanya, ia mengajak masyarakat untuk menggunakan logika, berdialektika dengan cara berpikir yang rasional, terstruktur, dan selalu mengacu pada bukti sebelum akhirnya sampai pada kesimpulan. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat melepaskan diri dari belenggu takhayul dan bergerak menuju kemajuan yang lebih nyata.

Meskipun demikian, mengubah pola pikir yang telah mengakar bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan serta pendekatan yang sensitif terhadap nilai-nilai budaya yang ada.

Dengan memahami akar dari kepercayaan terhadap hal mistis dan takhayul, diharapkan masyarakat Indonesia dapat bergerak menuju cara berpikir yang lebih rasional tanpa mengabaikan kekayaan budayanya.

Baca juga: Makna puasa dalam berbagai Agama, tak hanya Islam

Pentingnya pendekatan kritis

Di era modern ini, penting bagi masyarakat untuk mengedepankan pendekatan kritis dan rasional dalam menanggapi berbagai informasi. Pendidikan dan pemahaman ilmiah perlu ditingkatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh klaim-klaim yang tidak berdasar.

Fenomena seperti yang terjadi di Goa Safarwadi menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi dan ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, kepercayaan terhadap hal-hal mistis masih memiliki tempat di hati sebagian masyarakat. Oleh karena itu, edukasi dan literasi informasi menjadi kunci dalam membentuk masyarakat yang lebih kritis dan rasional.

Baca juga: Keutamaan Shalat Taubat dalam ajaran agama Islam

Baca juga: Hukum merayakan Hari Valentine dalam ajaran agama Islam

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |