Soal BRICS, Celios: RI perlu dorong kerja sama Afrika dan Brazil

1 month ago 6
Kalau BRICS dimanfaatkan untuk perluasan pasar ke Afrika Selatan dan Brasil, itu satu hal yang harus didorong

Jakarta (ANTARA) - Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, Indonesia perlu mendorong potensi kerja sama dengan Afrika Selatan dan Brazil dari keanggotaan blok ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China dan South Africa (BRICS).

“Kalau BRICS dimanfaatkan untuk perluasan pasar ke Afrika Selatan dan Brazil, itu satu hal yang harus didorong,” kata Bhima dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa.

Menurut Bhima, Indonesia selama ini memiliki dua kendala utama terkait kerja sama dengan Afrika Selatan dan Brasil, yakni identiknya produk yang dihasilkan serta biaya logistik yang terlampau mahal akibat jauhnya jarak antarnegara.

Meski begitu, Bhima menyebut Indonesia mempunyai modal yang bisa ditawarkan untuk mewujudkan kerja sama dengan kedua negara tersebut.

Untuk Afrika Selatan, kata Bhima, peluang kerja sama bisa dijalin melalui pendanaan transisi energi. Sebab, Indonesia merupakan negara kedua penerima pembiayaan transisi energi dari Kemitraan Transisi Energi yang Adil Indonesia (Just Energy Transition Partnership atau JETP).

Terlebih, baik Afrika Selatan maupun Indonesia merupakan negara penghasil mineral kritis.

“Harapannya banyak yang bisa dikelola dari dua negara ini,” ujar Bhima.

Sementara dengan Brasil, kegiatan COP30 tahun ini digelar di negara tersebut, dengan tema utama mengenai pendanaan hutan.

Bhima menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk menggali potensi konservasi hutan agar bisa menjalin relasi yang baik dengan Brasil.

“Itu dalam konteks kerja sama dengan BRICS, sehingga di tengah era Donald Trump ini, BRICS bisa menjadi salah satu opsi kerja sama,” tambahnya.

Namun, Bhima mengingatkan agar Pemerintah Indonesia berhati-hati terkait hubungan bilateral dengan Amerika Serikat.

“Terutama memastikan Indonesia tetap bisa memasok bahan baku baterai dan kendaraan listrik, serta bisa membuka pasar-pasar ekspor yang ada di Amerika Serikat untuk produk dari Indonesia,” tutur dia.

Selain dengan Amerika Serikat, pemerintah juga perlu mewaspadai risiko sanksi yang diberikan oleh negara-negara Barat, mengingat Indonesia mengharapkan peluang harga minyak murah dari Rusia. Sebab, dia berpendapat, negara-negara Barat turut menerapkan kebijakan proteksionisme, sebagaimana yang dilakukan oleh Trump di Amerika Serikat.

Baca juga: Airlangga pastikan AS memahami langkah RI menjadi anggota BRICS

Baca juga: Ekonom: Indonesia gabung BRICS beri dampak jangka panjang

Baca juga: Wamenlu sebut ancaman tarif AS tidak secara khusus sasar BRICS

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |