Setetes ASI yang tak mampu ditiru laboratorium

4 hours ago 1
ASI bukan sekadar "makanan", tapi "zat hidup" yang diproduksi oleh tubuh ibu untuk memenuhi kebutuhan bayi

Jakarta (ANTARA) - Pada 21 Mei 2026, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melayangkan surat terbuka kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta tiga wakil kepalanya.

Surat dari Satgas ASI dan UKK Nutrisi Penyakit Metabolik IDAI itu bukan surat biasa. Isinya adalah keberatan resmi atas kebijakan distribusi susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berpotensi mengancam keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Indonesia.

Kalimat pembuka surat itu cukup gamblang: jutaan bayi dan anak Indonesia belum mampu berbicara untuk diri mereka sendiri, sehingga para dokter anak merasa perlu mengambil alih suara itu. Substansinya adalah kekhawatiran bahwa distribusi susu formula secara massal, tanpa pemeriksaan dokter dan tanpa indikasi medis, dapat mendorong ibu-ibu Indonesia menghentikan laktasi lebih cepat dari yang seharusnya.

IDAI merujuk pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, yang sama-sama menegaskan bahwa susu formula hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter berdasarkan indikasi medis tertentu. Susu formula tergolong sebagai Pangan Olahan Diet Khusus, bukan komoditas pangan umum yang bisa disebarkan layaknya beras atau telur. Kementerian Kesehatan sendiri, menurut IDAI, sudah dua kali mengirimkan peringatan resmi kepada BGN terkait persoalan ini.

Respons BGN datang cepat. Dadan Hindayana menegaskan bahwa program MBG tidak menyediakan susu formula bayi sama sekali untuk kelompok usia 0-6 bulan, guna menjaga ASI eksklusif. Yang dibuka sebagai opsi hanyalah susu formula lanjutan untuk usia 6–12 bulan dan formula pertumbuhan untuk balita 1–3 tahun, itupun dengan syarat ada rekomendasi dari ahli gizi, bidan, atau puskesmas setempat. Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya juga menegaskan hal serupa, tidak ada intervensi formula untuk bayi di bawah enam bulan.

Di permukaan, perbedaan posisi antara IDAI dan BGN terlihat lebih soal implementasi daripada prinsip. Namun para dokter anak menilai bahwa celah kebijakan itu tetap berbahaya jika tidak diikuti oleh mekanisme kontrol yang ketat di lapangan.


ASI bukan sekadar makanan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |