Menemukan titik temu kultural dan struktural antar tokoh NU

1 hour ago 2
NU abad kedua membutuhkan keduanya sekaligus. NU membutuhkan kekuatan pesantren yang menjaga ruh, sekaligus kemampuan organisasi yang memastikan langkah tetap terarah. NU membutuhkan kedalaman tradisi dan kecakapan manajemen dalam waktu yang bersamaa

Jakarta (ANTARA) - Pertemuan antara KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz) dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) pada 25 Mei 2026 di Pondok Pesantren bersejarah Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Ada simbol yang jauh lebih dalam dari sekadar lokasi dan waktu.

Di tengah dinamika NU menjelang berbagai momentum penting abad keduanya, pertemuan itu seperti sedang memperlihatkan satu pesan bahwa NU membutuhkan titik temu antara energi kultural pesantren dan kekuatan struktural organisasi.

Di sisi lain, pertemuan itu juga memperlihatkan bahwa komunikasi antarelite NU masih memiliki ruang kebijaksanaan khas pesantren, tidak selalu gaduh di ruang publik, tetapi bekerja melalui silaturahmi.

Tradisi inilah yang sejak dahulu membuat NU mampu melewati banyak gelombang konflik tanpa kehilangan akar kulturalnya.

Dan menariknya, pertemuan itu berlangsung di Bina Insan Mulia, sebuah ruang yang sejak awal dikenal bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga tempat bertemunya gagasan, tradisi pesantren, dan ikhtiar membangun masa depan.

Tempat itu menjadi semacam metafora kecil tentang NU sendiri yakni tradisional tetapi terbuka, berakar tetapi bergerak maju.

Karena itu, pertemuan tersebut terasa lebih bermakna dibanding sekadar komunikasi politik organisasi. Pertemuan seperti menghadirkan dua wajah NU dalam satu meja yang sama.

Kiai Imjaz selama ini dikenal sebagai representasi arus utama pesantren. Pengaruhnya tumbuh bukan karena kegaduhan panggung, tetapi karena jejaring kultural yang luas dan kemampuan merangkul banyak kekuatan. Lebih-lebih kekuatan sayap NU politik, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa yang ada di pusat kekuasaan.

Dalam situasi NU yang sering dipenuhi fragmentasi kepentingan, kemampuan seperti ini menjadi sangat penting. Ia mampu berbicara dengan bahasa pesantren, tetapi juga bisa menjembatani dunia politik, birokrasi, dan kekuasaan.

Kiai Imjaz tampak memahami bahwa NU abad kedua tidak cukup hanya menjaga warisan, tetapi juga harus mampu menawarkan arah. Karena itu berbagai tulisan dan gagasannya banyak berbicara tentang perlunya NU bergerak visioner, memperkuat pendidikan, membangun kemandirian ekonomi, memperluas diplomasi peradaban, dan menjaga NU tetap menjadi rumah besar bagi semua elemen.

Baca juga: Gus Lilur: Muktamar ke-35 jadi pijakan NU tetap jadi penjaga moral RI

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |