BRIN sebut Indonesia miliki potensi besar temukan spesies flora baru

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Deden Girmansyah mengungkapkan Indonesia masih menyimpan potensi besar penemuan spesies baru yang belum teridentifikasi.

"Potensi penemuan spesies baru masih sangat besar. Di Papua misalnya, dari data yang ada baru tercatat dua spesies begonia, padahal Papua Nugini memiliki sekitar 69 spesies. Jadi kemungkinan masih banyak sekali yang belum ditemukan," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Deden menyebut secara khusus Kalimantan dan Papua masih menyimpan banyak kawasan yang belum tereksplorasi secara optimal. Ia bahkan memperkirakan jumlah begonia di Kalimantan saja bisa mencapai ratusan spesies.

Selain potensi ilmiah, lanjut dia, begonia liar juga memiliki nilai ekonomi dan manfaat praktis. Tanaman ini dikenal memiliki bentuk dan warna daun yang menarik sebagai tanaman hias, mengandung banyak air pada batangnya, serta berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.

Dalam hal ini, Deden menyoroti minimnya jumlah ahli taksonomi di Indonesia, sehingga diharapkan semakin banyak generasi muda tertarik menjadi taksonom untuk mempercepat identifikasi kekayaan biodiversitas nasional.

"Kita berpacu dengan waktu, apakah spesies itu ditemukan lebih dulu atau justru hilang lebih dulu akibat kerusakan habitat," ujarnya menegaskan.

Lebih lanjut, Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN Destario Metusala menyebut Indonesia memiliki sekitar 4.000 spesies anggrek, menjadikannya salah satu negara dengan keragaman anggrek tertinggi di dunia.

Sebagian besar di antaranya bersifat endemik dan memiliki potensi besar untuk pengembangan obat, kosmetik, tanaman hias, hingga bahan aromatik.

Peneliti yang belum lama ini berhasil mengidentifikasi tiga spesies anggrek baru Indonesia itu juga menilai tantangan kelestarian anggrek perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari perubahan fungsi lahan hingga perlunya pengaturan pemanenan dari alam untuk kebutuhan kolektor dan industri obat.

"Sebagian besar bahan baku obat masih diambil langsung dari alam. Karena itu, budidaya dan penangkaran menjadi solusi penting untuk menjaga keberlanjutannya," ucap Destario.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |