Sepakati ART RI-AS, ekonom nilai daya saing industri harus diperkuat

5 days ago 10
akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat

Jakarta (ANTARA) - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengingatkan bahwa fasilitas tarif 0 persen dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) bukan keistimewaan yang hanya diberikan kepada Indonesia, namun juga sejumlah negara lain.

Maka, Ia menilai manfaat dari tarif rendah tersebut sangat bergantung pada daya saing industri nasional.

“Banyak negara juga mendapatkan fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya, akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat,” ujar Tauhid dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Sebagaimana diketahui, kesepakatan ART antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) memberikan tarif 0 persen untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia. Kebijakan ini dinilai membuka peluang ekspor yang lebih luas ke pasar Amerika.

Menurut Tauhid, keberhasilan Indonesia memanfaatkan peluang tersebut akan sangat ditentukan oleh kesiapan sektor industri dalam meningkatkan produktivitas, kualitas produk, serta efisiensi biaya.

Baca juga: Ekonom UI sebut trade diversion AS ke RI bisa capai 7,11 miliar dolar

Baca juga: CSIS nilai ART bisa diperluas ke mitra lain demi manfaat yang optimal

Di sektor elektronik, misalnya, persaingan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara menjadi tantangan nyata.

“Produk seperti CPO memang kita produksi, tetapi pasar juga memiliki alternatif dari negara lain yang mendapatkan fasilitas tarif serupa,” tambahnya.

Para pengamat sepakat bahwa tarif 0 persen dalam kesepakatan ART merupakan peluang signifikan bagi perdagangan Indonesia, namun bukan jaminan otomatis peningkatan ekspor.

Tauhid mengingatkan bahwa Indonesia tetap harus memperkuat daya saing agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi 0 persen, belum tentu ekspor kita langsung meningkat jika kapasitas dan daya saing industri belum siap,” tegasnya.

Kajian Tauhid yang mengacu pada model analisis ekonomi yang dikembangkan IPB memperkirakan bahwa dalam skenario tarif 19 persen dengan pengecualian 0 persen untuk produk tertentu, ekspor Indonesia dapat turun sekitar 1,58 persen, sementara impor diproyeksikan meningkat 1,51 persen.

Dalam skenario tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,41 persen, sedangkan Amerika Serikat diproyeksikan mencatat pertumbuhan sebesar 6,54 persen.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia juga perlu mengantisipasi potensi tekanan defisit sekitar 5,7 miliar dolar AS.

Angka tersebut belum termasuk komitmen pembelian komoditas Amerika senilai 38,4 miliar dolar AS yang tercantum dalam kesepakatan ART.

Direktur Prognosa Research & Consulting Garda Maharsi menjelaskan bahwa pemetaan awal terhadap struktur industri nasional menunjukkan peluang yang berbeda di setiap sektor.

Beberapa sektor dinilai memiliki potensi besar untuk memanfaatkan momentum ART, di antaranya industri nikel, energi, dan petrokimia.

Selain itu, komoditas kelapa sawit (CPO) juga berpotensi memperluas pasar ekspor apabila didukung oleh kebijakan yang tepat.

“Sejumlah sektor memang memiliki peluang yang cukup kuat untuk berkembang. Namun agar potensi tersebut terealisasi, perlu dukungan ekosistem industri yang memadai,” jelas Garda.

Sektor-sektor unggulan perlu didukung berbagai kebijakan strategis, termasuk kemudahan akses pembiayaan, dukungan logistik yang efisien, serta penguatan rantai pasok industri.

Di sisi lain, sektor seperti tekstil, produk logam, dan mineral dinilai masih membutuhkan penguatan kapasitas agar dapat bersaing secara optimal di pasar global.

Direktur Public Affairs Praxis sekaligus Wakil Ketua Umum Public Affairs Forum Indonesia Sofyan Herbowo menilai kesiapan kapasitas industri akan menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan kebijakan tarif itu sendiri.

Menurut dia, beberapa komoditas unggulan Indonesia seperti CPO masih memiliki posisi kuat di pasar global.

“Indonesia masih menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk CPO sehingga memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar global,” ujar Sofyan.

Namun untuk sektor industri dengan rantai pasok panjang seperti tekstil, dibutuhkan waktu serta strategi penyesuaian yang matang sebelum dapat memanfaatkan peluang ekspor secara optimal.

Baca juga: Indef: MBG kunci daya saing hilirisasi ayam domestik hadapi ART AS

Baca juga: Indef: Swasembada pangan perlu diperkuat di tengah ART RI-AS

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |