Sekolah Rakyat bangkitkan mental kaum marjinal Kaltim

1 hour ago 2
Nilai terbesar dari pendidikan terletak pada keberanian untuk berproses, berani bermimpi besar, dan tidak lelah untuk terus belajar

Samarinda (ANTARA) - Kekayaan sumber daya alam yang melimpah kerap identik dengan Provinsi Kalimantan Timur, terlebih daerah penyangga utama Ibu Kota Nusantara ini menjadi pusaran ekonomi yang masif. Meski di luar itu, terselip sebuah gambaran sosial yang menuntut perhatian penuh dari negara.

Perlu kiranya menelisik sudut-sudut gang sempit dan kawasan pinggiran, di mana kemiskinan ekstrem masih menjadi tembok tebal yang mengurung mimpi generasi muda untuk sekadar mengenyam pendidikan yang layak.

Bagi kaum marjinal di Kalimantan Timur, pendidikan bermutu sering kali bukan dianggap sebagai hak dasar, tetapi sebuah barang mewah yang tak terjangkau oleh penghasilan harian mereka.

Realitas ini tercermin dari gurat wajah Eri Suwiryo, seorang pria berusia 67 tahun yang menetap di ujung gang buntu kawasan Antasari II, Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kota Samarinda. Menempati rumah kayu berukuran 4x4 meter yang dindingnya mulai dimakan usia, pria kelahiran Tuban yang merantau ke Kalimantan Timur sejak tahun 1974 ini harus berjuang seorang diri membesarkan cucu satu-satunya yang yatim piatu, Nur Asyifa.

"Namanya juga tukang kayu lepas, pendapatan sangat tidak menentu. Kadang hanya cukup untuk makan, dan lebih sering kali berhemat habis-habisan," kata Eri.

Dahulu, meskipun biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di sekolah negeri berstatus gratis, napas Eri tetap terasa sesak ketika harus memikirkan ongkos seragam, buku, hingga uang saku agar cucunya tidak merasa minder di sekolah.

Kecemasan yang menahun itu turut membayangi keseharian Nurhaidah, seorang ibu delapan anak di Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda. Saban hari, ia dan suaminya bergelut dengan tanah di ladang, memanen pucuk daun singkong untuk dijual kepada tengkulak dengan harga sekadarnya demi menyambung hidup.

"Bagi keluarga kami, menyekolahkan anak setinggi-tingginya terasa seperti sebuah mimpi terlampau mewah," cakap dia.

Beban serupa juga menghimpit pundak Bunga Tan, seorang istri dari kuli bangunan lepas yang kerap kali harus pasrah saat sang suami pulang ke rumah dengan tangan hampa karena sepinya proyek.

Eri sang tukang kayu, Nurhaidah si petani singkong, dan Bunga Tan yang istri kuli bangunan adalah potret keluarga yang hidup pas-pasan dari penghasilan serabutan. Bagi mereka, ancaman putus sekolah bagi anak-anak mereka adalah momok yang mengintai setiap pergantian tahun ajaran baru.

Sekarang, kekhawatiran yang menahun itu perlahan sirna ketika kabar baik datang menghampiri. Anak-anak mereka kini mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat.

Murid Sekolah Rakyat Samarinda Nur Asyifa bersama walinya Eri Suwiryo uduk di muka rumahnya di ujung gang buntu, Kawasan Antasari, Samarinda. ANTARA/Ahmad Rifandi

Menjawab kebutuhan fundamental

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |