Sejumlah faktor hingga tanda yang picu batu ginjal

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Konsultan asosiasi urologi di Manipal Hospital, Bhubaneswar, Dr. Sarbjit Mohapatra membagikan sejumlah faktor hingga tanda yang berisiko batu ginjal.

Batu ginjal merupakan endapan mineral keras yang mengkristal dan terbentuk di dalam organ ketika sisa-sisa mineral saling menggumpal.

Menurut dia, dehidrasi menjadi salah satu faktor penyebab batu ginjal. Sebab, saat tubuh lebih banyak berkeringat tetapi tidak diimbangi dengan asupan air yang cukup, volume urine akan berkurang.

"Akibatnya, mineral pembentuk batu menjadi lebih pekat sehingga lebih mudah membentuk batu ginjal,” kata Dr. Sarbjit seperti dilaporkan laman Hindustan Times, pada Jumat (26/6) waktu setempat.

Baca juga: Pola hidup sedentari dan obesitas jadi pemicu penyakit batu ginjal

Baca juga: Mengatasi batu ginjal dengan metode RIRS untuk cegah kekambuhan

Dr. Sarbjit juga menyoroti kasus batu ginjal cenderung lebih sering terjadi selama musim panas. Dalam kondisi ini, orang-orang kerap menghadapi paparan panas, perjalanan panjang, makanan ringan jalanan yang asin hingga istirahat minum teh atau kopi tanpa cukup air,

“Akses kamar mandi yang tertunda, dan terkadang kecenderungan untuk mengabaikan gejala buang air kecil awal,” imbuh dia.

Adapun sejumlah faktor kumulatif berisiko batu ginjal meliputi kurang minum air, pola makan tinggi garam, konsumsi protein hewani berlebihan, infeksi saluran kemih (ISK), riwayat batu ginjal dalam keluarga, obesitas atau sindrom metabolik, pernah mengalami batu ginjal sebelumnya.

Kemudian, mengonsumsi suplemen kalsium atau vitamin C tanpa pengawasan tenaga medis hingga penyakit asam urat (gout) atau hiperparatiroidisme.

Batu ginjal sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Keluhan biasanya baru muncul ketika batu mulai bergerak atau menyumbat aliran urine.

Gejala yang paling umum antara lain nyeri di bagian samping tubuh atau punggung, nyeri yang menjalar hingga ke selangkangan, sensasi terbakar saat buang air kecil, adanya darah dalam urine, mual atau muntah, frekuensi buang air kecil meningkat, serta demam dan menggigil.

Selain itu, terdapat beberapa gejala yang lebih halus tetapi tetap memerlukan pemeriksaan medis, seperti demam disertai nyeri, produksi urine berkurang, muntah hebat, serta nyeri yang tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat.

Beberapa kelompok juga memerlukan perhatian khusus apabila mengalami gejala tersebut, yaitu orang yang hanya memiliki satu ginjal, ibu hamil, penderita diabetes, lansia yang mengalami demam, hingga orang yang berulang kali mengalami batu ginjal.

Mencegah risiko batu ginjal

Meski batu ginjal dapat diobati setelah terdiagnosis, Dr. Sarbjit turut membagikan sejumlah langkah yang dapat membantu menurunkan risiko batu ginjal seperti minum air putih yang cukup sepanjang hari.

Menurut dia, bukan hanya jumlah air yang penting, tetapi juga waktu konsumsinya. Disarankan pola konsumsinya seperti pada pagi hari sekitar 500 ml, sebelum berangkat dari rumah sekitar 500 ml.

Kemudian, selama jam kerja 1–1,5 liter, sore hingga malam 500–700 ml, dan sebelum tidur sedikit air jika tubuh masih merasa nyaman.

Mengurangi konsumsi garam, sebab apabila terlalu tinggi dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urine sehingga memperbesar risiko terbentuknya batu ginjal.

Batasi konsumsi makanan kemasan, keripik, camilan asin, makanan cepat saji, dan makanan yang tinggi garam atau natrium.

Menurut Dr. Mohapatra, pola makan yang terlalu rendah kalsium justru dapat meningkatkan penyerapan oksalat dari makanan, sehingga risiko terbentuknya batu kalsium oksalat bisa semakin besar.

Kemudian, air lemon dapat membantu sebagian penderita karena kandungan sitrat mampu mengurangi pembentukan batu. Namun, air lemon bukanlah obat yang dapat melarutkan sebagian besar batu ginjal. Hindari menambahkan gula berlebihan.

Batasi konsumsi protein hewani berlebihan. Konsumsi daging merah, jeroan, dan makanan tinggi protein hewani dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar asam urat pada sebagian orang.

Hindari mengobati sendiri atau hanya mengandalkan pengobatan rumahan. Apabila batu ginjal sudah menyumbat aliran urine, pengobatan rumahan justru dapat menunda penanganan medis yang diperlukan.

Nyeri bisa saja menghilang meskipun batu ginjal masih berada di dalam tubuh. Pemeriksaan lanjutan, seperti pemindaian, diperlukan untuk memastikan batu sudah keluar dan pembengkakan pada ginjal telah mereda.

“Konsultasikan dengan ahli urologi jika gejalanya berlanjut, kambuh, atau terkait dengan demam, nyeri, darah dalam urin, atau berkurangnya aliran urin," kata Dr. Sarbjit.

Baca juga: Mengenal batu ginjal dalam medis dan cara untuk mendiagnosanya

Baca juga: Mengenali gejala batu ginjal untuk cegah komplikasi

Baca juga: 7 cara efektif cegah batu ginjal sejak dini

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |