Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebut mendekati level Rp17.000.
Purbaya, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, menyatakan posisi rupiah saat ini masih berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS dan kondisi tersebut masih dapat dikendalikan selama fondasi ekonomi nasional tetap kuat.
“Enggak ah, masih Rp16.800-an. Selama fondasi ekonomi kita bagus, mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” ujar Purbaya saat memenuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto.
Purbaya menjelaskan stabilitas nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik yang sehat serta koordinasi yang kuat antara pemerintah dan otoritas moneter.
Menurutnya, langkah utama yang perlu dilakukan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan likuiditas dalam sistem keuangan cukup.
Ia menambahkan, Bank Indonesia juga terus memantau pergerakan nilai tukar di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar global.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus, uang di sistem cukup, dan BI mungkin monitor keadaan nilai tukar seperti apa. Jadi kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” katanya.
Purbaya menilai koordinasi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia akan memudahkan upaya meredam gejolak pasar dunia yang berdampak pada pergerakan rupiah.
“Kalau kompak seperti ini, enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia,” ujarnya.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, bergerak menguat 86 poin atau 0,51 persen menjadi Rp16.863 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.949 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa konflik dengan Iran sudah mendekati penyelesaian.
Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































