Riset dan inovasi mainkan peran penting wujudkan pembangunan inklusif

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Director of the UNESCO Regional Office Maki Katsuno-Hayashikawa menekankan bahwa riset dan inovasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi memainkan peran yang amat penting untuk mendorong kemajuan ekonomi bangsa dan mewujudkan pembangunan yang inklusif.

“Kita cenderung mengabaikan peran perguruan tinggi, bagaimana pada dasarnya mereka bisa langsung memengaruhi pengambilan kebijakan dan mengubah arah pemerintahan atau publik. Namun, perguruan tinggi tidak dapat melakukan ini sendiri, mereka memiliki mahasiswa yang merupakan aset terbesar mereka,” kata Maki dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Maki mengatakan peneliti memiliki peranan strategis dalam mengembangkan teknologi, solusi inovatif, dan kebijakan yang berdampak luas. Semakin banyak penelitian yang dihasilkan, semakin besar pula kontribusinya terhadap kemajuan negara.

Hasil riset atau inovasi yang dihasilkan dapat berkontribusi besar yang dapat mengubah dunia dengan kekuatan penelitian, mampu mempengaruhi kebijakan, menyumbang informasi data ke lembaga-lembaga seperti PBB dan memberikan saran dan masukan kepada pemerintah.

Baca juga: Tanoto Foundation buat beasiswa TELADAN cetak generasi emas

Penelitian tidak lepas pada isu tertentu, namun juga dapat membantu memperluas wawasan dan pengertian tentang dunia khususnya untuk para peneliti muda.

Sayangnya, Maki menyoroti Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait dengan jumlah peneliti.

Berdasarkan data dari UNESCO pada tahun 2018, Indonesia hanya memiliki sekitar 110 peneliti per satu juta penduduk, jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai 1.198 peneliti per satu juta penduduk.

"Pada tingkat Asia, Indonesia juga tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia (503 peneliti per satu juta penduduk), Singapura (509 peneliti per satu juta penduduk), dan Jepang (6 ribu peneliti per satu juta penduduk)," katanya.

Ia mengatakan pemerintah Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), telah menetapkan target untuk meningkatkan jumlah peneliti di Indonesia, dengan tujuan mencapai 9 ribu peneliti pada tahun 2045.

Baca juga: Bappenas anggap kerja sama dengan Tanoto Foundation langkah strategis

Dalam upaya mendukung pertumbuhan jumlah peneliti, terutama di kalangan generasi muda, salah satu program kolaborasi yang digelar adalah Youth as Researchers - Tanoto Scholars Research Awards (YAR-TSRA) yang diselenggarakan pada Jumat (22/11/2024) di Jakarta.

Acara ini merupakan hasil kemitraan antara UNESCO dan Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981.

Program itu telah berlangsung sejak 2023 ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi peneliti muda Indonesia untuk mengembangkan potensi mereka dalam penelitian sosial yang dapat berkontribusi dalam pembuatan kebijakan publik.

Nantinya para peneliti muda diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil riset mereka di hadapan pembuat kebijakan, akademisi, dan sektor swasta, dengan fokus pada isu-isu sosial yang relevan di Indonesia, seperti kesehatan mental, perubahan iklim, teknologi digital, dan pendidikan inklusif.

Maki mengatakan lewat kerja sama dengan perguruan tinggi, UNESCO ingin menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi mahasiswa untuk mengambil tindakan termasuk melalui riset atau penelitian karena mahasiswa memiliki peran penting sebagai pemberi masukan penelitian dan pengajaran di lembaga perguruan tinggi.

Baca juga: Tanoto Foundation komitmen dukung pendidikan berkualitas yang merata

Baca juga: Bappenas luncurkan Buku Putih Pemetaan SDM untuk Indonesia Emas 2045

Baca juga: UNESCO dukung pemberdayaan mahasiswa RI sebagai peneliti muda baru

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |