Jakarta (ANTARA) - Indonesia, sejak berabad-abad lalu merupakan pusat peradaban dan perdagangan dunia berkat kekayaan rempahnya, dengan lebih dari 275 jenis, menjadikan Nusantara pengendali jalur niaga global.
Rempah, seperti pala, cengkih, dan lada, bukan sekadar bumbu, melainkan penggerak ekspedisi, diplomasi, dan sejarah dunia, yang membuat bangsa-bangsa Eropa datang silih berganti, hingga VOC meraup keuntungan besar dari Nusantara.
Kini, kebangkitan rempah Indonesia di pasar global, bukan utopia, melainkan target realistis jika hilirisasi dipercepat, petani dan UMKM diperkuat, branding diperluas. Dengan peningkatan mutu, infrastruktur, dan diversifikasi produk olahan, rempah kembali berpeluang menjadi sumber kesejahteraan dan simbol kedaulatan ekonomi.
Meski berakar pada sejarah panjang, rempah tetap memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, saat ini. Data BPS dan LPEI menunjukkan volume ekspor rempah Indonesia sepanjang Januari–November 2023 melonjak 30 persen (yoy), dengan nilai mencapai Rp9 triliun atau sekitar US$564 juta.
Indonesia masih menjadi raksasa cengkih dunia, dengan menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar global dan menempati peringkat kedua dunia sebagai eksportir lada, menegaskan bahwa komoditas utama, seperti cengkih, lada, pala, dan kayu manis tetap menjadi andalan, sekaligus trade-mark Indonesia di pasar internasional.
Tantangan terbesar terletak pada rendahnya nilai tambah. Ekspor rempah Indonesia masih didominasi bahan mentah. Indonesia baru berada di peringkat ke-18 untuk produk olahan, dengan nilai US$360 juta. Padahal, pengolahan dapat meningkatkan nilai rempah, hingga 5–7 kali lipat, misalnya mengolah cengkeh menjadi minyak atsiri atau lada menjadi oleoresin bernilai tinggi.
Ketergantungan pada ekspor bahan mentah membuat Indonesia sulit bersaing dengan negara, seperti India dan China, karena keunggulan komparatif belum diimbangi dengan keunggulan kompetitif berbasis hilirisasi.
Di dalam negeri, rempah menjadi tulang punggung ekonomi rakyat, dengan jutaan petani dari Aceh hingga Fakfak menggantungkan hidup pada lada, pala, kapulaga, kayu manis, jahe, vanili, dan komoditas rempah lainnya. Sektor ini menyerap tenaga kerja luas, menopang pendapatan daerah, dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan, sehingga pemerintah memprioritaskan rempah sebagai garda depan industrialisasi dan sumber devisa baru.
Saat ini, kinerja ekspor pun mulai membaik, ditunjukkan oleh pertumbuhan ekspor bumbu dan rempah olahan sebesar 17 persen pada Januari–Mei 2024 (US$423 juta), termasuk ekspor pala 26 ribu ton senilai hampir US$198 juta pada 2021 dan gambir Sumatera Barat senilai US$90 juta pada 2022, menandakan bahwa rempah berpotensi menjadi sunrise industry bagi perekonomian nasional.
Persaingan global
Kinerja ekspor rempah Indonesia menunjukkan dinamika positif, meski belum sepenuhnya stabil. Sepanjang tahun 2023, BPS mencatat volume ekspor rempah meningkat hampir 30 persen. Nilai ekspor justru turun 4 persen, mencerminkan pelemahan harga komoditas global, sehingga kenaikan volume belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan devisa.
Di tengah kondisi tersebut, permintaan dunia tetap kuat terhadap komoditas utama, seperti lada, vanili, kayu manis, cengkih, pala, kapulaga, jahe, dan kunyit, dengan tujuan ekspor utama ke China, Amerika Serikat, India, Vietnam, dan Belanda, serta pertumbuhan signifikan ke pasar non-tradisional, seperti Bangladesh, Pakistan, dan Peru.
Di sisi lain, persaingan global semakin ketat, terutama dari India dan Vietnam. India dikenal sebagai raksasa rempah dunia dan eksportir utama berbagai komoditas bernilai tambah, seperti kurkumin dan minyak pala, sementara Vietnam dalam dua dekade terakhir menjadi produsen lada terbesar dunia serta eksportir utama kayu manis dan bunga lawang.
Meski Indonesia, kini tercatat sebagai eksportir rempah terbesar kedua dunia, setelah Vietnam, dominasi negara pesaing dalam industri hilir menjadi peringatan bahwa ekspor Indonesia yang masih didominasi bahan mentah membuat nilai ekonomi yang dinikmati relatif lebih rendah.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































