Perusahaan AI China saling berlomba rilis model terbaru

2 hours ago 1

Beijing (ANTARA) - Perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) China saling berlomba meluncurkan model terbaru saat periode liburan Tahun Baru Imlek, berupaya menciptakan momen terobosan berikutnya, seperti yang pernah dicapai oleh DeepSeek

Beberapa hari yang lalu, sebuah versi uji coba misterius yang dijuluki Pony Alpha menjadi perbincangan hangat di kalangan komunitas AI berkat performanya yang luar biasa dalam pemrograman (coding), memicu spekulasi luas mengenai siapa pengembangnya. Pada Kamis (12/2), terungkap bahwa model itu adalah GLM-5 yang dikembangkan oleh Zhipu AI yang berbasis di Beijing.

Model baru itu mencatat skor tinggi pada berbagai tolok ukur agen AI termutakhir dan telah berhasil digunakan dalam banyak alur kerja agen AI selama periode pengujian tertutupnya (stealth period), sebut sebuah unggahan akun milik OpenRouter di platform media sosial X. Pendekatan pengujian tertutup tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri para pengembang China terhadap kemampuan produk mereka.

Pada akhir bulan lalu, Moonshot, perusahaan teknologi lain yang juga berbasis di Beijing, meluncurkan versi terbaru Kimi 2.5, mengejutkan komunitas AI dengan kinerja sumber terbukanya (open source) dalam berbagai tugas agen, pemrograman, pemrosesan gambar, video, serta beragam tugas kecerdasan umum.

Model sumber terbuka itu diperkirakan dapat memangkas biaya hingga 90 persen, dan menciptakan "momen Kimi 2.5," ujar Chamath Palihapitiya, seorang analis Silicon Valley terkemuka. Dia juga menyebut model itu "sangat signifikan."

DeepSeek juga secara tertutup memulai uji coba gray-scale terhadap aplikasi dan antarmuka webnya. Panjang context window (jumlah teks yang dapat diproses secara sekaligus) langsung ditingkatkan dari sebelumnya 128.000 token menjadi 1 juta token, menunjukkan bahwa peningkatan signifikan sedang dipersiapkan.

Dorongan untuk mereplikasi dampak global signifikan dari peluncuran R1 oleh DeepSeek pada Januari 2025 juga telah diperluas ke ranah video dan gambar AI.

Platform pengubah teks-ke-video Seedance 2.0 milik ByteDance yang baru-baru ini diuji coba dan mampu menghasilkan rangkaian adegan film multi-shot dalam waktu sekitar 60 detik hanya dengan prompt yang cukup sederhana, telah memicu demam kreasi video pendek di dunia maya global.

"Era masa kanak-kanak AIGC telah berakhir," tutur Feng Ji, kreator gim global populer Black Myth: Wukong, saat membahas Seedance 2.0.

"Untungnya, setidaknya untuk saat ini, Seedance 2.0 berasal dari China," imbuh Feng, yang terpukau dengan kemampuan AI tersebut.

Selain itu, divisi AI Alibaba, Qwen, meluncurkan model dasar pembuatan gambar generasi berikutnya, yakni Qwen-Image 2.0, pada Selasa (10/2). Model Qwen yang bersifat open-source tersebut mendukung perangkat-perangkat AI bagi Komite Olimpiade Internasional dalam persiapan menghadapi Olimpiade Musim Dingin Milan 2026.

Raksasa-raksasa teknologi China, termasuk Alibaba, Tencent, dan ByteDance, memanfaatkan musim liburan Tahun Baru Imlek ini untuk memikat para pengguna agar menggunakan asisten cerdas mereka. Mereka bersiap mempercepat pembangunan ekosistem dari penelitian dan pengembangan (litbang) sampai ke penggunaan oleh konsumen, yang berlandaskan model dan platform AI masing-masing.

China memiliki 1,125 miliar pengguna internet per akhir 2025, dan jumlah pengguna teknologi AI generatif di negara itu mencapai 602 juta, melonjak 141,7 persen dari akhir 2024, ungkap Pusat Informasi Jaringan Internet China (China Internet Network Information Center).

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |