Jakarta (ANTARA) - Kepala Instalasi Napza RSJ Marzoeki Mahdi Bogor dr. Ayie Sri Kartika mengatakan edukasi mengenai kemampuan mekanisme pelepasan stres menjadi cara untuk mengurangi risiko adiksi zat psikoaktif termasuk whip pink.
“Misalnya kalau stress, apa sih yang dilakukan? Kalau lagi kesel, apa sih yang dilakukan? orang yang tipe agresif, ya sudah siapin aja misalnya samsak di rumah. Kalau dia lagi marah, pukul-pukulin tuh samsak, misalnya seperti itu ya,” kata Ayie dalam webinar yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.
Ayie mengatakan, mekanisme mengelola stress juga bisa dilakukan dengan mencari support system orang terdekat yang bisa dipercaya untuk bercerita. Namun ia mengatakan, masalah di Indonesia banyak orang yang sudah tidak lagi memiliki seseorang yang bisa dipercaya sebagai pendukungnya dalam masa sulit.
Hal itu dapat menyebabkan rasa kesendirian dan akhirnya berujung mencoba sesuatu yang bisa mengalihkan perasaan sedihnya, salah satunya dengan zat psikoaktif yang adiktif.
Baca juga: Mengenal nitrous oxide, gas tertawa yang perlu diwaspadai
Ayie mengatakan masyarakat bisa meminta bantuan kepada profesional untuk berkonsultasi jika sudah melihat tanda kecanduan pada zat adiktif misalnya sulit berhenti atau menarik diri dari lingkungan.
“Yang namanya orang terdekat kita, kita tidak pernah objektif. Jadi mendingan langsung deh konsultasi. Nggak usah takut aduh nanti jelek namanya dan lain sebagainya. Konsultasi saja langsung,” kata Ayie.
Ia juga menyarankan untuk segera menjauhi lingkungan yang terlihat menormalisasi pemakaian zat tersebut atau jika merasa pemakaian sudah melebihi batas normal.
Mengedukasi diri sendiri mengenai risiko hipoksia atau kerusakan saraf akibat penggunaan zat psikoaktif juga dapat menjadi cara untuk melepaskan diri dari kecanduan.
Zat psikoaktif seperti whip pink menyebabkan ketergantungan karena memiliki efek menenangkan, rasa senang, tubuh terasa ringan, sehingga kerap disalahgunakan sebagai cara atau solusi dari masalah yang dihadapi.
Dampak jangka pendek pada pemakaian pertama pengguna akan merasa pusing, mual, bicara pelo karena ada syaraf yang terblokir, kemudian rasa panik, gelisah ketika tidak memakai dan pingsan mendadak karena kurang cakupan oksigen ke otak.
Sementara dampak jangka panjang, kata Ayie, pengguna zat ini akan memiliki emosi yang tidak stabil, paranoid, tremor atau lumpuh karena defisiensi vitamin B12, kecemasan berat serta gangguan tidur dan halusinasi yang menetap.
Baca juga: Tren gas tertawa dan FOMO remaja, psikolog beri penjelasan
Baca juga: BNN awasi ketat penggunaan "Whip Pink"
Baca juga: Pakar ingatkan bahaya menghirup "gas tertawa" bagi kesehatan
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































