Abad kedua NU, merawat nalar dan mengubah mental Nahdliyin

2 hours ago 1
Jika NU ingin tetap relevan di tengah arus disrupsi global, maka keberanian untuk berbeda sikap dan pikiran bahkan terhadap arus utama internal harus dipandang sebagai kekayaan intelektual, bukan pembangkangan.

Jakarta (ANTARA) - Nahdlatul Ulama (NU), sebagai jam’iyyah keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia, telah terbukti kokoh. Namun, di balik angka jutaan jamaah, tersimpan tantangan besar terkait kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari organisasi yang memasuki usia abad kedua ini.

Jika abad pertama adalah tentang mempertahankan tradisi dan eksistensi, maka abad kedua haruslah tentang profesionalisme, saintifikasi, dan transformasi mental.

Tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari revolusi teknologi, perubahan sosial, hingga kompetisi global, menuntut kesiapan mental dan intelektual yang jauh lebih matang daripada sekadar kebanggaan historis.

Refleksi satu abad NU membawa kesadaran akan kebutuhan mendesak untuk bertransformasi dari pola pikir tradisional-komunal yang cenderung jumud menuju profesional-saintifik.

Salah satu hambatan terbesar dalam transformasi SDM NU adalah pola pikir yang terlalu berorientasi pada figur (person-centered) daripada sistem atau nilai (value-centered).

Ketika figur menjadi pusat loyalitas utama, sering kali sistem menjadi lemah dan mekanisme evaluasi tidak berjalan optimal. Padahal, organisasi modern yang kuat selalu bertumpu pada tata kelola, transparansi, dan meritokrasi.

Budaya sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami patuh) menciptakan militansi dan kohesi sosial yang tinggi. Namun, dalam konteks profesionalisme modern, pola pikir ini sering kali berubah menjadi fanatisme buta terhadap figur atau kelompok, yang justru menghambat daya kritis.

Militansi tanpa nalar hanya akan melahirkan kepatuhan, bukan kreativitas. Di tengah dunia yang bergerak cepat, kreativitas dan inovasi justru menjadi kunci daya saing.

Akibatnya, fanatisme kelompok yang berlebihan mengakibatkan SDM NU sulit berpikir objektif, takut berbeda pendapat, dan cenderung pasif (status quo). Dalam dunia kerja dan manajemen, mentalitas ini berbahaya karena menghambat inovasi.

Takzim kepada guru adalah akhlak mulia. Namun, ketika ketakziman berubah menjadi pengkultusan yang mematikan daya kritis, di situlah masalah bermula. Penghormatan seharusnya memperkaya dialog, bukan membatasi pertanyaan.

Baca juga: Presiden Prabowo dan pelajaran penting dari "Satu Abad NU"

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |