Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengembangan genomik akan membawa perubahan besar dalam industri kesehatan Indonesia, sehingga perlu kerja sama lintas disiplin guna pengembangan risetnya.
“Dengan memahami genom, diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Kita bisa periksa dengan pasti ketika ciri-ciri penyakit sudah muncul, lalu langsung tahu bagaimana cara mengobatinya dengan presisi. Ini yang akan mereformasi industri kesehatan di Indonesia,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Jumat.
Menkes menekankan riset genomik membutuhkan berbagai bidang keilmuan, mulai dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran.
Ke depan, kata dia, Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) difokuskan pada sejumlah penyakit prioritas seperti stroke, jantung, dan kanker payudara, sebagai pilot project.
Baca juga: Kemenkes: Kedokteran presisi strategi redam lonjakan biaya kesehatan
Melalui konsorsium riset yang melibatkan lintas sektor seperti Kemenkes, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, serta rumah sakit, maka Indonesia diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan data genomik untuk kebijakan kesehatan dan pelayanan publik.
Pengembangan riset genomik di Indonesia memasuki babak baru melalui kolaborasi strategis lintas sektor. Menurut Menkes, langkah ini bertujuan mengintegrasikan infrastruktur serta data guna mempercepat implementasi kedokteran presisi di tanah air.
Dalam kesempatan yang sama Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan riset genomik merupakan kerja lintas disiplin yang tidak dapat dilakukan secara parsial. Sebagai langkah konkret, lanjutnya, pemerintah dapat membentuk Konsorsium Riset Genomik Nasional.
Baca juga: Pemerintah gandeng akademisi kuatkan pengobatan presisi melalui BGSI
"Konsorsium ini menjadi platform strategis yang menghubungkan perguruan tinggi, lembaga riset, rumah sakit pendidikan, hingga mitra industri," ujar Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Kepala Badan Riset Nasional (BRIN) Arif Satria juga menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung konsorsium melalui penyediaan akses fasilitas riset berstandar tinggi (high-end facilities). Langkah ini menjadi solusi atas mahalnya biaya pengadaan laboratorium genomik yang sulit dipenuhi oleh setiap institusi secara mandiri.
"BRIN membuka kolaborasi seluas-luasnya agar fasilitas yang ada dapat digunakan bersama guna memacu inovasi nasional," kata Arif Satria.
Baca juga: Kepala BRIN tekankan urgensi riset kesehatan berbasis "One Health"
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































