Beijing (ANTARA) - Pertumbuhan anggaran pertahanan China diperkirakan akan melambat menjadi 7 persen pada tahun 2026, menurut draf laporan yang diserahkan kepada badan legislatif nasional untuk ditinjau pada hari Kamis.
Hal itu menandai tahun ke-11 berturut-turut pertumbuhan satu digit dalam anggaran pertahanan China. Tingkat pertumbuhan tersebut tercatat sebesar 7,2 persen pada 2023, 2024, dan 2025.
Menurut draf laporan anggaran 2026, sekitar 1,9 triliun yuan (1 yuan = Rp2.446) akan dialokasikan untuk pertahanan nasional China.
Belanja pertahanan China tetap relatif moderat jika dilihat dari sejumlah indikator utama, termasuk proporsinya terhadap produk domestik bruto (PDB), belanja pertahanan per kapita, serta pengeluaran pertahanan per personel militer.
China secara konsisten menjaga belanja pertahanannya di bawah 1,5 persen dari PDB selama bertahun-tahun.
Menurut perkiraan NATO, hampir semua anggotanya mencapai target belanja pertahanan sebesar 2 persen dari PDB pada 2025. Mereka juga berkomitmen untuk terus meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari PDB pada 2035.
Negara tetangga China, Jepang, telah meningkatkan anggaran pertahanannya selama 13 tahun berturut-turut, dengan kenaikan sekitar 60 persen dalam lima tahun terakhir.
Dalam tahun fiskal 2025, belanja pertahanan per kapita Jepang dan belanja per personel pertahanan masing-masing tiga kali lipat dan lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan China.
Karena meningkatnya ketidakstabilan global, para pengamat memperkirakan belanja militer dunia akan kembali meningkat tahun ini, dengan negara-negara Barat menyumbang sebagian besar kenaikan tersebut.
China menegaskan bahwa menyesuaikan anggaran pertahanan untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional merupakan hak kedaulatannya, sekaligus menjaga pertumbuhan belanja militer yang stabil dan moderat guna melindungi kedaulatan, keamanan, serta kepentingan pembangunan di tengah dunia yang berubah cepat.
China menganut kebijakan pertahanan nasional yang bersifat defensif. China merupakan satu-satunya negara besar di dunia yang secara eksplisit mengukuhkan "pembangunan damai" dalam Konstitusi dan piagam partai yang berkuasa.
China juga berperan sebagai kekuatan yang teguh dalam menjaga perdamaian dan stabilitas. China merupakan penyandang dana terbesar kedua untuk operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan penyumbang pasukan terbesar di antara anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Para pejabat China telah menyatakan bahwa terlepas dari tahap perkembangan apa pun yang dicapai, China tidak akan pernah mencari hegemoni atau terlibat dalam ekspansionisme.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































