Pertamina: Proyek jelantah untuk energi hijau perkuat ketahanan energi

2 weeks ago 9
Beberapa maskapai penerbangan, baik internasional maupun domestik, sudah melakukan transaksi dengan kami

Cilacap (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) menyatakan proyek pengolahan minyak jelantah menjadi energi hijau di Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Cilacap menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan dan swasembada energi nasional sekaligus menciptakan dampak ekonomi yang luas.

Saat memberi keterangan pers usai acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-1 Biorefinery Pertamina di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Jumat sore, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari program strategis nasional yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin kedua terkait swasembada energi, hilirisasi dan industrialisasi.

“Proyek ini mengimplementasikan banyak Astacita Presiden, mulai dari ketahanan energi, pengurangan impor, hingga pemberantasan kemiskinan. Dari minyak jelantah yang sebelumnya tidak bernilai, kini menjadi energi hijau yang strategis,” katanya.

Dia mengatakan pengolahan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah menjadi bahan bakar berkelanjutan tidak hanya menghasilkan biofuel, juga memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.

Menurut dia, proyek tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 5.900 lapangan kerja, menurunkan emisi karbon hingga 600 ribu ton karbondioksida (CO2) per tahun, serta berkontribusi terhadap produk domestik bruto dengan nilai mencapai Rp199 triliun per tahun.

“Selain itu, tingkat komponen dalam negeri diperkirakan mencapai 30 persen dari total proyek, dengan nilai investasi sekitar 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp19 triliun,” katanya.

Dia mengatakan proyek energi hijau berbasis minyak jelantah juga berperan penting dalam mengurangi impor, menekan defisit transaksi berjalan, serta meningkatkan daya saing dan penciptaan nilai ekonomi nasional.

Dari sisi lingkungan, kata Emma, proyek tersebut turut menekan polusi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengatakan produk yang dihasilkan berupa sustainable fuel yang telah dikembangkan Pertamina sejak 2023 dan mulai dipasarkan secara komersial sejak tahun 2024.

“Beberapa maskapai penerbangan, baik internasional maupun domestik, sudah melakukan transaksi dengan kami. Dari sisi pasokan, kami mengumpulkan minyak jelantah bersama masyarakat di sejumlah titik serta bekerja sama dengan asosiasi pengepul,” katanya.

Ia menegaskan ke depan Pertamina akan terus memperluas jaringan pengumpulan minyak jelantah sebagai gerakan nasional agar masyarakat dapat berperan langsung sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto mengatakan dari sisi teknologi, proyek tersebut didukung kemampuan dalam negeri, termasuk penggunaan katalis hasil karya anak bangsa yang diproduksi oleh Pertamina Group.

“Sebagian besar teknologi dan desain sudah menggunakan sumber daya dalam negeri, meskipun lisensi teknologi tertentu masih berasal dari luar negeri,” katanya.

Saat memberi sambutan dalam acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-1 untuk 13 lokasi yang dipusatkan di Jakarta, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan proyek hilirisasi menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional karena mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Sore hari ini (6/2) kita melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase pertama yang tersebar di berbagai daerah, dan secara keseluruhan mencakup 13 wilayah di Indonesia,” katanya

Ia mengatakan proyek tersebut tersebar di sejumlah daerah seperti Mempawah, Banyuwangi, Cilacap, Malang, dan Gresik, dengan total nilai investasi sekitar 7 miliar dolar AS yang mencakup sektor energi, mineral, dan agroindustri.

Menurut dia, proyek hilirisasi pada tahun 2025 menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi nasional atau mencapai Rp584,1 triliun, meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, serta diharapkan semakin merata di berbagai daerah.

Baca juga: Prabowo tutup ekspor jelantah, prioritaskan untuk energi nasional

Baca juga: Kemenhub percepat regulasi SAF untuk tekan emisi penerbangan

Baca juga: Pertamina perkuat kolaborasi industri aviasi dalam penggunaan SAF

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |