Beijing (ANTARA) - Setiap tahun, pemerintah China menyelenggarakan Konferensi Kerja Ekonomi Pusat untuk merumuskan arah kebijakan ekonomi nasional tahun berikutnya.
Konferensi tahun ini dilangsungkan pada 10-11 Desember 2025 yang dibuka oleh Presiden Xi Jinping sekaligus untuk memastikan mulusnya tahun pertama pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 yang merupakan acuan pembangunan lima tahunan Tiongkok.
Salah satu poin dalam konferensi adalah mengupas secara mendalam masalah struktural ekonomi China yaitu kelebihan kapasitas produksi dan tekanan deflasi yang terus-menerus sehingga menyebabkan rendahnya permintaan domestik.
Bahasa baru yang dipakai dalam dokumen resmi keluaran Komite Sentral Partai Komunis China dan Dewan Negara menyebut masalah inti ekonomi bukan sekadar insufficient demand melainkan prominent contradiction between strong supply and weak demand alias kontradiksi yang luas antara kuatnya pasokan dan lemahnya permintaan.
Artinya, pemerintah China mengakui bahwa negara tersebut memproduksi jauh lebih banyak dibanding yang dapat dikonsumsi penduduknya sendiri.
Sejak berdirinya Republik Rakyat China (RRC) pada 1949, misi inti negara adalah untuk mencapai kesetaraan teknologi dan industri dengan Barat. Demi tujuan itu, negara telah menyalurkan sebagian besar sumber daya publik untuk meningkatkan produksi dan kemampuan sisi penawaran (supply) yang akhirnya mengorbankan kesejahteraan rumah tangga karena upah buruh yang murah.
Bahkan di era reformasi ekonomi China (disebut dengan Reformasi dan Keterbukaan atau Gǎigé Kāifàng) pada 1978, seiring meningkatnya standar hidup, investasi dalam rantai produksi selalu diutamakan. Model ini sangat mendorong sisi suplai China tapi menciptakan masyarakat yang gemar menabung dan berinvestasi jauh lebih banyak dibanding mengonsumsi.
Rumah tangga di China telah mensubsidi kebangkitan ekonomi negara tersebut melalui pengorbanan atas imbal hasil yang seharusnya mereka terima padahal hampir seluruh dunia menikmati barang-barang buatan China yang dijual dengan harga diskon.
Hal ini bukan masalah baru, tapi telah mencapai titik kritis.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































