Yogyakarta (ANTARA) - Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Budi Setiadi Daryono menyebut eksplorasi laut Indonesia hingga kini belum mencapai 15 persen dari total potensi wilayah perairan yang dimiliki.
Menurut dia, data maritim memiliki nilai penting untuk mengenali potensi sumber daya laut di berbagai wilayah.
"Data maritim ini sangat berharga. Laut Indonesia yang dieksplorasi juga belum ada 15 persen," kata Budi dalam keterangannya di Yogyakarta, Kamis.
Baca juga: Menko Marves tekankan ekonomi biru dalam eksplorasi kelautan
Ia menjelaskan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversity di dunia dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang menempatkannya di urutan kedua atau ketiga terbesar secara global.
Dengan dua per tiga wilayah berupa perairan, sebagian besar keanekaragaman hayati tersebut berada di kawasan maritim, meski potensi itu belum sepenuhnya dieksplorasi secara optimal.
Menurut dia, sejumlah satwa laut, bahkan berisiko terancam punah akibat perburuan serta penurunan populasi.
Karena itu, pemerintah telah menetapkan perlindungan terhadap sejumlah satwa langka, antara lain enam jenis penyu, duyung (dugong), hiu paus, pari manta, pari gergaji, lumba-lumba, kima, dan ikan napoleon.
Budi mengatakan dunia satwa tidak hanya terbatas pada ekosistem daratan, tetapi juga mencakup ekosistem yang hidup di perairan laut.
Keberadaan satwa liar di wilayah maritim juga berkaitan dengan kerentanan pulau-pulau kecil yang menjadi habitatnya.
"Pola pikir dalam melihat pembangunan sudah saatnya digeser dari yang berlandaskan target pendapatan per kapita, menjadi pemberdayaan bagi semua pihak dengan tetap mempertahankan kekayaan dan keanekaragaman alam," ujarnya.
Ia menilai budaya maritim di Indonesia telah banyak terdegradasi akibat sentralisasi pendidikan di wilayah perkotaan, padahal laut merupakan sumber pangan, bagian dari rantai ekonomi, sekaligus masa depan bagi negeri kepulauan seperti Indonesia.
Baca juga: Indonesia gandeng OceanX tingkatkan potensi kelautan RI
Baca juga: BPPT dukung peningkatan riset eksplorasi mineral laut dalam Indonesia
"Sebuah bangsa akan berhasil jika sistem pendidikannya maju. Mau itu levelnya keluarga, daerah, sampai negara. Bangsa yang maju, pasti bangsa yang menitikberatkan prioritasnya ke pendidikan, sehingga sains dan alam dapat beriringan," kata dia.
Budi menyoroti pentingnya dukungan anggaran riset untuk menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan dalam mengenali potensi laut suatu wilayah.
Menurut dia, ekstraksi sumber daya laut kerap dilakukan oleh pihak eksternal yang berpotensi mengancam sumber pangan masyarakat lokal.
Oleh karena itu, ia menilai masyarakat pesisir perlu didorong memiliki akses terhadap pengetahuan dan data agar mampu memetakan potensi laut di wilayahnya secara mandiri. "Itulah yang akan menjadi salah satu solusi," kata dia.
Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































