Perjuangan padamkan karhutla di perbatasan yang sunyi

2 weeks ago 10
Di Natuna, wilayah perbatasan yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, perjuangan itu berlangsung dalam diam

Natuna (ANTARA) - Langit di sejumlah wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, memerah dalam beberapa pekan terakhir Maret hingga awal April 2026. Asap yang semula tipis perlahan menebal, menyelimuti kawasan hutan dan lahan yang mengering akibat panjangnya hari tanpa hujan akibat fenomena El nino.

Vegetasi yang kehilangan kelembapan berubah menjadi bahan bakar alami yang mudah tersulut api. Dalam situasi itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hampir muncul di semua titik, menjalar cepat hingga meluas.

Kebakaran awal terluas terjadi di Kecamatan Bunguran Timur Laut, pada Ahad (23/3) malam. Sekitar 50 hektare lahan dilaporkan hangus. Api bergerak cepat, melompat dari semak ke pepohonan, membesar dalam waktu singkat.

Malam itu, tim gabungan berjibaku selama lebih dari tiga jam. Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan bersama aparat kepolisian berusaha menahan amukan api dengan peralatan seadanya.

Mobil pemadam hanya bisa menjangkau titik tertentu. Selebihnya, petugas harus berjalan kaki, menembus asap dan panas, memukul api menggunakan ranting dan dahan. Cara sederhana itu menjadi satu-satunya pilihan di tengah keterbatasan.

“Tidak ada hambatan berarti, tetapi dampaknya memang luas,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Natuna, Syawal.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Titik api bermunculan di wilayah lain antara Kecamatan Bunguran Batubi, Bunguran Utara hingga Bunguran Barat. Angin kencang dan suhu tinggi mempercepat penyebaran. Api merambat masuk ke hutan yang lebih dalam wilayah yang sulit dijangkau kendaraan maupun personel darat.

Medan terjal, jarak tempuh yang panjang, serta sumber air minim membuat upaya pemadaman menjadi pertaruhan fisik dan mental. Petugas harus berjalan berjam-jam, membawa peralatan di tengah kepungan asap yang mengaburkan pandangan.

Luas area terdampak pun terus bertambah hingga mencapai ratusan hektare. Asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Jalanan tertutup kabut asap, sementara kualitas udara turun dan berisiko bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Natuna mengambil langkah tegas. Status penanganan bencana ditingkatkan dari siaga darurat menjadi tanggap darurat, berlaku mulai 26 Maret hingga 1 April.

Keputusan ini guna membuka ruang koordinasi lebih luas sekaligus menjadi dasar untuk meminta dukungan pemerintah pusat. Langkah tersebut terbukti tepat. Kebakaran yang telah masuk ke kawasan hutan dalam tidak lagi bisa diatasi hanya dengan kemampuan daerah. Dibutuhkan intervensi yang lebih besar dan cepat.

Permohonan bantuan diajukan untuk pelaksanaan operasi pemadaman dari udara melalui water bombing serta modifikasi cuaca guna memicu hujan buatan.

Respons datang tidak lama kemudian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter untuk water bombing dan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca.

Titik balik

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |