Jakarta (ANTARA) - Perdebatan mengenai vaksin menarik perhatian setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertanyakan keamanan vaksin MMR (Measles, Mumps, and Rubella), yaitu vaksin yang memberikan perlindungan terhadap penyakit campak, gondongan, dan rubella.
Dalam kebijakan yang ditandatangani pada 10 Agustus 2026, pemerintahan Trump mendorong agar vaksin MMR yang selama ini diberikan sebagai vaksin kombinasi dipisahkan menjadi suntikan untuk masing-masing penyakit.
Trump juga menggunakan perumpamaan yang sangat keras dengan menyamakan vaksin tersebut dengan "senjata nuklir". Pernyataan itu kemudian mendapat kritik dari sejumlah tenaga medis dan tokoh politik, termasuk Senator Bill Cassidy yang merupakan seorang dokter.
Adanya perdebatan tersebut penting dan cukup menarik jika dilihat dari perspektif biologi. Sebab, sebelum menilai apakah vaksin MMR atau vaksin apapun itu mengandung bahaya atau tidak, masyarakat juga perlu memahami dan dipahamkan terlebih dahulu terkait penyakit yang hendak dicegah.
Penyakit campak, gondongan, dan rubella memang sama-sama disebabkan oleh virus, tetapi ketiganya merupakan penyakit yang benar-benar berbeda dengan karakteristik dan risiko yang berbeda-beda pula.
Campak disebabkan oleh measles virus, jenis virus RNA yang termasuk genus Morbillivirus. Penyakit ini dikenal sangat mudah menular. Virus ini dapat menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas.
Orang yang belum memiliki kekebalan akan beresiko tertular ketika berada dalam lingkungan yang sama dengan penderita campak. Gejala campak biasanya diawali demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Setelah beberapa hari, muncul ruam merah yang umumnya dimulai dari wajah dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Yang perlu dipahami, campak bukan hanya penyakit dengan gejala demam dan ruam. Infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia, infeksi telinga, diare berat, bahkan ensefalitis atau peradangan otak. Dalam kasus berat, campak dapat menyebabkan kecacatan dan kematian.
Virus ini juga dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga setelah sembuh, seseorang dapat mengalami penurunan kemampuan tubuh dalam menghadapi infeksi tertentu. Fenomena tersebut sering dibahas dalam beberapa literatur ilmiah sebagai immune amnesia.
Gondongan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































