Pengelolaan sampah dari rumah jalan beriringan dengan Waste to Energy

4 hours ago 6
Warga harus memilah sampah dari awal. (sampah) organik itu sebetulnya seperti tambang emas yang bisa dimanfaatkan, lalu yang non-organik bisa untuk Waste to Energy.

Jakarta (ANTARA) - Pengelolaan sampah dari rumah atau tingkat komunitas dinilai perlu berjalan beriringan dengan solusi berskala besar, seperti program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) untuk mengolah sampah yang belum tertangani.

Pengelolaan sampah berbasis warga di RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jakarta, menunjukkan bahwa pemilahan sampah dari sumbernya dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus ekonomi.

Ketua RT 08/RW 04,Taufiq Supriadi Yusuf dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa pemilahan sampah dari rumah tangga harus menjadi fondasi pengelolaan sampah, sementara proyek Waste-to-Energy dapat menjadi salah satu alternatif untuk menangani sampah yang tidak tertangani melalui inisiatif warga.

“Warga harus memilah sampah dari awal. (sampah) organik itu sebetulnya seperti tambang emas yang bisa dimanfaatkan, lalu yang non-organik bisa untuk Waste to Energy,” ujar Taufiq.

Melalui kombinasi biopori, komposter, budi daya maggot, dan bank sampah, sebanyak 41 rumah tangga di lingkungan RT 08/RW 04 tersebut berupaya mengolah sampah secara mandiri.

Taufiq menyadari bahwa pengelolaan sampah berbasis warga memiliki keterbatasan, terutama dari sisi lahan dan kapasitas pengolahan.

Dengan demikian, ia menilai hadirnya proyek Waste to Energy tetap diperlukan sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah di Indonesia.

"Waste to Energy tetap harus dilakukan, karena mereka punya lahan yang beda dengan kami yang tidak punya lahan. Kalau ada lahan, kami pun senang ada Waste to Energy,” ujar Taufiq.

Taufiq menilai solusi pengelolaan sampah perlu dibangun secara berlapis, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga teknologi pengolahan berskala besar.

Pihaknya berharap proyek Waste to Energy dapat membantu mengurangi timbunan sampah yang terus menumpuk, termasuk di tempat pemrosesan akhir.

Namun, ia menekankan kehadiran teknologi pengolahan sampah tidak boleh membuat masyarakat berhenti melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.

“Harapan ke depan ya keluarga harus bergerak bersama supaya negara tidak lagi sendirian,” kata Taufiq.

Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada Kamis (17/9), telah meresmikan pembangunan fasilitas PSEL Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

PSEL Bogor Raya 1 menjadi fasilitas ketiga yang memasuki tahap pembangunan setelah PSEL Denpasar Raya dan PSEL Kota Bekasi, yang akan mencakup kawasan aglomerasi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya Danantara untuk mempercepat pengembangan solusi pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan dan berbasis teknologi ramah lingkungan, sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Pandu mengatakan permasalahan sampah tidak hanya mempengaruhi kehidupan kita saat ini, tetapi juga masa depan anak-anak kita.

"PSEL Bogor Raya I dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, pengembangan energi hijau, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, menurunkan emisi dari TPA hingga 80 persen, serta mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun,” kata Pandu.

Baca juga: KLH utamakan pembangunan PSEL di tiga daerah dengan fiskal tinggi

Baca juga: Jatim jadi provinsi terbaik I pengolahan sampah dan lingkungan asri

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |