Semarang (ANTARA) - Di tengah perubahan selera pasar dan semakin beragamnya kebutuhan konsumen, perajin rotan di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tidak hanya dituntut untuk menghasilkan produk baru.
Mereka juga menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana membuat kerajinan tetap relevan tanpa kehilangan pengetahuan dan keterampilan yang menjadi identitasnya?
Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat pengembangan 20 produk baru kerajinan rotan Trangsan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026.
Program yang melibatkan Program Studi Desain Interior dan Arsitektur Universitas Sebelas Maret (UNS), Klaster Rotan Trangsan, praktisi desain, serta mitra dari Jepang itu mencoba mengembangkan produk bukan dengan membawa desain jadi kepada perajin, melainkan dengan menjadikan pengetahuan perajin sebagai sumber gagasan desain.
Trangsan memiliki sejarah panjang sebagai sentra kerajinan rotan. Aktivitas kerajinan di desa tersebut berkembang sejak sekitar 1910 dan mengalami pertumbuhan industri yang pesat ketika permintaan pasar ekspor meningkat pada dekade 1980-an.
Perkembangan tersebut memperkuat kemampuan produksi masyarakat Trangsan. Namun, pada saat yang sama, kebutuhan pasar membuat desain produk semakin banyak mengikuti pesanan dan tren konsumen.
Kondisi inilah yang coba dijawab melalui PISN 2026. Alih-alih membawa rancangan dari luar untuk kemudian dikerjakan perajin, tim pengembang terlebih dahulu memetakan potensi yang telah dimiliki masing-masing workshop.
Lima workshop, yakni Pratama Rotan, Andi Rotan, Arafif Rotan, Cahaya Rotan, dan Workshop Mbah Kacung, dipelajari berdasarkan material, teknik, jenis produk, kemampuan produksi, dan karakter bentuk yang selama ini mereka kembangkan.
Dari proses tersebut, perajin tidak ditempatkan hanya sebagai pelaksana produksi. Mereka terlibat dalam menentukan kemungkinan pengembangan berdasarkan pengalaman yang mereka miliki.
Teknik menganyam, cara membentuk rotan, pemilihan material, konstruksi sambungan, hingga pemahaman terhadap kelenturan material menjadi bagian dari proses perancangan.
Gagasan desain kemudian dikembangkan melalui diskusi, sketsa, referensi visual, pembuatan model, dan eksperimen langsung di workshop.
Menjadi lampu
Salah satu hasil pengembangan tersebut adalah lampu portabel cepuk yang dikerjakan bersama Workshop Andi Rotan.
Bentuknya berangkat dari benda yang dekat dengan kehidupan masyarakat Trangsan, yakni wadah pakan ayam. Karakter bentuk tersebut kemudian diterjemahkan menjadi lampu dengan fungsi yang lebih sesuai dengan kebutuhan rumah tangga masa kini.
Proses serupa diterapkan pada sejumlah produk lain. Potensi teknik dan bentuk yang sudah dikuasai perajin dikembangkan menjadi keranjang serbaguna yang dapat ditumpuk, keranjang kucing yang terinspirasi dari kaso atau tas tradisional untuk membawa ayam, hanger, stackable stool, coffee table, serta aksesori fesyen berbahan rotan.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan meninggalkan produk lama.
Dalam konteks Trangsan, inovasi justru dapat dimulai dengan membaca kembali apa yang sudah dimiliki perajin, kemudian mencari kemungkinan fungsi dan bentuk baru dari pengetahuan tersebut.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































