Pengamat nilai gangguan penerbangan berdampak ke kenyamanan perjalanan

2 weeks ago 7

Jakarta (ANTARA) -

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azhari menyampaikan bahwa faktor keamanan dan kenyamanan perjalanan menjadi syarat utama bagi wisatawan, sehingga gangguan jadwal penerbangan berisiko langsung menekan rasa aman pengunjung.

“Bahwa satu syarat bagi pengunjung adalah keamanan dalam perjalanannya hingga selama destinasi yang dituju,” kata Azril saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.

Ia menambahkan tren perilaku wisatawan saat ini semakin mengarah pada pencarian ketenangan selama perjalanan sehingga keterlambatan dan pembatalan penerbangan dapat memengaruhi persepsi dan keputusan berkunjung.

“Bahwa keinginanan perilaku pengunjung saat ini pun telah bergeser guna mendapatkan ketenangan dirinya atau serenity. Sehingga hal ini akan membuat mereka merasa tidak aman dan nyaman selama perjalanannya,” ujarnya.

Azril menilai gangguan operasional penerbangan juga dapat berdampak pada minat wisatawan terhadap Indonesia sebagai tujuan perjalanan.

Baca juga: Pembatalan penerbangan dapat berdampak pada kepercayaan wisatawan

“Gangguan penerbangan seperti ini bisa memengaruhi minat pengunjung bahkan kepercayaan untuk berkunjung ke Indonesia,” kata dia.

Laporan media perjalanan Travel and Tour World mencatat terjadi 4.284 keterlambatan dan 95 pembatalan penerbangan di 16 bandara internasional Asia. Sejumlah kota yang terdampak antara lain Shenzhen, Shanghai, Delhi, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Dubai, Manila, Istanbul, Teheran, dan Jakarta.

Dalam laporan tersebut, Bandara Internasional Soekarno Hatta tercatat memiliki jumlah pembatalan tertinggi, yakni 20 penerbangan, disusul Istanbul Sabiha Gokcen, dan Teheran Imam Khomeini.

Menurut Azril, maskapai juga menghadapi tekanan dari sisi biaya operasional, terutama bahan bakar pesawat atau avtur yang menjadi komponen utama biaya penerbangan.

“Apalagi hal ini diperberat lagi khusus bagi maskapai yang beroperasi di Indonesia harus menanggung biaya tiket lebih tinggi karena Avtur (Aviation Turbine Fuel) yang lebih mahal serta mulai digunakannya Sustainable Aviation Fuel (SAF) mulai 2026 ini dengan alasan dekarbonisasi,” kata dia.

Dikutip dari International Air Transport Association (IATA), Sustainable Aviation Fuel (SAF) merupakan bahan bakar penerbangan berbasis sumber terbarukan yang didorong penggunaannya secara global dan diperkirakan dapat menyumbang sekitar 65 persen kebutuhan pengurangan emisi sektor aviasi menuju target nol emisi karbon pada 2050.

Baca juga: Kemenhub koordinasikan gangguan penerbangan di Soetta akibat layangan

Baca juga: Airnav: 21 penerbangan di Bandara Soetta terganggu akibat layangan

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |