Jakarta (ANTARA) - Pengamat Hubungan Internasional Universitas Budi Luhur Andrea Abdul Rahman Azzqy menyoroti perlunya pemerintah Indonesia memastikan KTT BRICS dapat dimanfaatkan sebagai instrumen ekonomi, bukan sekadar kunjungan.
"BRICS harus jadi instrumen ekonomi, bukan sekadar panggung retorika atau kunjungan semata," kata Andrea kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Kehadiran Indonesia di KTT BRICS di India, katanya, berlangsung di tengah kondisi politik luar negeri yang semakin menantang.
Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, diplomasi bebas aktif menghadapi ujian karena hubungan dengan mitra tradisional seperti AS, Rusia, dan negara-negara Uni Eropa dinilai melemah akibat ketegangan tarif dan isu Palestina.
Sementara itu, keanggotaan BRICS, menurut dia, dapat membuka ruang baru bagi akses pasar, pembiayaan pembangunan, serta agenda ketahanan pangan dan energi.
"Target paling realistis adalah memastikan manfaat konkret bagi kepentingan nasional, bukan sekadar simbol keanggotaan," katanya.
Untuk itu, kunci keberhasilan partisipasi Indonesia dalam organisasi antarpemerintah tersebut adalah memastikan KTT BRICS dapat menjadi instrumen guna meningkatkan perekonomian Indonesia, alih-alih sekadar menjadi agenda kunjungan.
Lebih lanjut, Andrea mengatakan keberhasilan Indonesia dalam pertemuan puncak BRICS harus diukur melalui hasil nyata, antara lain peningkatan perdagangan, investasi yang terarah, serta pengakuan diplomatik atas posisi RI sebagai middle power yang mandiri.
Menurutnya, momentum BRICS 2026 dapat menjadi kesempatan sekaligus ujian untuk melihat apakah diplomasi Indonesia mampu keluar dari bayang-bayang politik luar negeri yang dinilai tengah melemah.
BRICS merupakan kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. Organisasi antarpemerintah tersebut terdiri atas anggota inti, yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta anggota lain seperti Mesir, Iran, Ethiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.
KTT BRICS akan digelar di New Delhi pada 12–13 September 2026.
Baca juga: Memanfaatkan keunggulan strategis Indonesia di OECD dan BRICS
Baca juga: RI dan India bidik kerja sama data center-semikonduktor di Forum BRICS
Baca juga: Rusia: Sistem peradilan BRICS jamin stabilitas di dunia multipolar
Pewarta: Katriana
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































